Jumat, 26 Desember 2008

YKII-ESQ Peduli Pendidikan


Pada Kegiatan yang diadakan ESQ dalam program Peduli pendidikan pada tanggal 23-25 Desember 2008 di Menara 165 Jakarta, YKII berkesempatan untuk mengikutsertakan 5 peserta yang berasal dari 2 sekolah inklusi yaitu SDN Perwira dan SDN Semeru 6 Kota Bogor dan 1 peserta dari Rumah Pintar yang membina dan mendidik anak-anak yang kurang mampu.

Semoga dengan kerjasama ini, bisa semakin menambah tali silaturahmi antara instansi yang khususnya menangani anak autis dan meningkatkan kualitas diri para "pahlawan" pendidikan kita.

Sabtu, 29 November 2008

Diskusi tentang Pendidikan Inklusif

Pada tanggal 27 November 2008, YKII memprakarsai terselenggaranya kegiatan diskusi tentang " Peran Serta para Pemerhati dan Praktisi Penanganan Anak Autisme Dalam Mensukseskan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Sesuai UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional". Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus Manajemen Bisnis IPB Jl. Raya Pajajaran Bogor dan dihadiri oleh Kasubdit Dikdasmen Dinas Pendidikan Kota Bogor Bapak Drs. Chasrodi, MPd dan perwakilan dari Sekolah-Sekolah dari tingkat TK, SD dan SMP Bogor, juga dihadiri perwakilan dari Klinik terapi, Dokter anak dan pemerhati autis.


Tujuan dari kegiatan ini adalah terjalinnya komunikasi yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak autisme dan spektrumnya dan memanfaatkan semua potensi yang ada di Kota Bogor.


Kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam diskusi ini adalah :

  • Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah amanah dari Allah terhadap orang tua, guru dan masyarakat, yang harus dibina agar bisa mandiri dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ABK juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
  • Jumlah anak berkebutuhan khusus yang semakin banyak masih menghadapi kendala dalam memperoleh haknya sebagai warga negara untuk memperoleh pendidikan. Sebagian besar sekolah negeri (tingkat kanak kanak sampai lanjutan) masih enggan menerima anak berkebutuhan khusus untuk belajar di tempatnya dengan berbagai macam alasan.
  • Penyelenggaraan pendidikan inlusif yang sudah dilandasi dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional perlu diimplementasikan bagi masa depan anak berkebutuhan khusus, dengan merumuskan sistem, pola, kurikulum, dan penyiapan tenaga guru yang benar-benar memahami ABK.
  • Beberapa unsur masyarakat dan kalangan pendidik yang memperhatikan anak kebutuhan khusus telah ada dan semakin banyak namun masih berjalan sendiri sendiri dan kurang solid dalam membantu menyiapkan masa depan ABK.
  • Pokja inklusi yang sudah ada perlu diperkuat dengan menambah berbagai unsur dan bidang-bidang keahlian agar memiliki daya dorong yang kuat secara politis dan sosial terhadap implementasi sekolah inklusif terhadap ABK
  • Pokja pendidikan inklusi yang idealnya terdiri dari berbagai unsur seperti birokrat, guru, dokter, tokoh, ahli pangan/gizi perlu segera didirikan untuk mengefektifkan kegiatan yang didedikasikan kepada anak berkebutuhan khusus

Senin, 25 Agustus 2008

"....outbOund....



YKII mengadakan kegiatan outbound dengan tema "Autism in Independence Day" pada tanggal 24 Agustus 2008 di Restoran Jala-jala Rancamaya Bogor. Kegiatan ini diikuti 72 orang yaitu anak-anak, orangtua, relawan, terapis, guru pendamping dan para sahabat istimewa.





Senin, 18 Agustus 2008

..." OUTing"....

"YKII Therapist dan Sibling Outing"


YKII mengadakan kegiatan refreshing yang bertemakan "YKII Therapist and sibling outing" di Taman Nasional Ujung Kulon pada tanggal 15-17 Agustus 2008. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan apresiasi antara semua pihak yang selama ini telah membantu kegiatan YKII, peserta outing ini adalah orang tua, sibling, terapis, relawan, aid teacher dan wartawan dari Radar Bogor yang semuanya ada 25 orang.



Dalam outing ini juga disetujui dan ditandatangani ikrar pegiat YKII Yang berisi pernyataan :

Saya pegiat YKII sadar bahwa :

  1. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
  2. Anak adalah tunas, potensi dan generasi penerus, yang oleh karenanya ia perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial untuk menjadi manusia berakhlak mulia.
  3. Anak penyandang autisma dan spektrumnya adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan pervasif sehingga apa yang normal baginya tidak normal bagi orang lain dan apa yang normal bagi orang lain tidak normal baginya.
  4. Dengan ilmu pengetahuan, kesabaran, kasih sayang, kegigihan dan keikhlasan serta rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, autisma dan spektrumnya dapat diatasi sehingga anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang, hidup mandiri serta berpartisipasi secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Atas kesadaran tersebut saya berikrar untuk :

  1. Selalu memberikan perlindungan kepada anak penyandang autisma dan spektrumnya baik secara langsung atau tidak langsung, diminta atau tidak diminta, agar anak terhindar dari tindakan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiyayaan, ketidakadilan, dan tindakan salah lainnya oleh orang lain secara sengaja.
  2. Selalu senantiasa mendharma-bhaktikan pengetahuan dan ketrampilan saya dalam upaya mengalahkan autisma dan spektrumnya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati saya.

Senin, 04 Agustus 2008

Front Pembela Anak Autis (FPAA)

“Kenapa sih, tidak FPAA saja ?” kata anak Tohiro (11 thn) tiba-tiba nyeletuk di tengah pembicaraan kami yang sedang menyusun kegiatan FBTA – Fasilitas Bersama Terapi Autis – milik yayasan yang kami kelola. “Apa itu FPAA?” tukas kami hampir serentak.” Front pembela anak autis !” jawabnya sambil berlalu tanpa ekspresi dan kembali dalam kesibukannya menggambar mobil tank dan orang yang mengacungkan senapan. Kami semua yang berada di ruangan itu, merasa geli dan tertawa kecut menghubungkan singkatan FPAA dengan singkatan yang mirip yang pernah hangat dalam pemberitaan TV dan koran. Suatu nalar yang spontan dari seorang anak penyandang autis.

Belum sampai satu bulan dari “protes” Tohiro tentang FBTA, belum hilang rasa geli kami, masih banyak spanduk – spanduk dan poster poster tentang Hari Anak terpampang di jalan – jalan raya, kami benar benar dibuat kecut oleh kejadian hari Jum’at tanggal 1 Agustus 2008, di sebuah mesjid di Kotamadya Bogor. Fian ( 9 thn, murid kelas 3, SD inklusi), seorang anak penyandang autis telah ditampar hanya karena ia tidak fokus (khusyuk) ketika shalat jum’at oleh seorang jama’ah (dewasa) yang merasa terganggu.

Hati kami tersayat, air mata membasahi papan ketik menceritakan kisah duka ini, nyali menjadi ciut untuk menunaikan amanah Allah SWT membesarkan anak yang berkebutuhan khusus di negeri tercinta yang penuh kekerasan ini. Perlukah kami memiliki sebuah tank dan senapan teracung untuk meraih hak kami hidup berdampingan ?

Fian tinggal dekat mesjid itu, dan sudah merupakan kebiasaannya ikut shalat berjamaah. Tentang ketaatan pada waktu, jangan tanya Fian dan anak penyandang autis pada umumnya. Mereka sangat taat jadwal bahkan aktifitas rutinnya telah diatur oleh prosedur tetap (protap) yang tertanam dalam otaknya. Ketaatan mereka dapat mengalahkan ketaatan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun. Lihat saja Tohiro atau Raafi (10 tahun) mereka segera mengambil wudlu dan mengerjakan shalat apabila jam tubuhnya membunyikan tanda yang 5 waktu tiba. Protapnya Tohiro mengatakan : “baca Al Qur’an setelah salam, buat tanda pada ayat terakhir yang dibaca, untuk dilanjutkan setelah shalat berikutnya “ Protap ini membuatnya khatam Al Qur’an pada usia yang sangat muda. Mereka akan merasa tidak nyaman apabila rutinitas itu berubah, bahkan dapat menjadi tantrum (marah). Protapnya Raafi lain lagi, ia harus shalat di shaf pertama dan datang lebih awal untuk mendapatkannya. Sering ia disuruh pindah kebelakang karena dianggap tidak pantas, ia kemudian menyelinap dengan berbagai cara untuk mengambil kembali haknya. Kelebihan – kelebihan itu hanya diketahui dan dilihat oleh keluarga dekatnya. Tetapi masyarakat – maaf`- bahkan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun hanya melihat dan mengetahui kekurangan – kekurangan anak penyandang autis. Ini yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa penamparan tersebut.

Anak penyandang autis (antara lain) karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya selalu ingin bergerak, populer dengan istilah hiperaktif atau hiperkinesis atau puluhan istilah ilmiah lainnya,. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirimkan perintah – perintah ke tubuhnya untuk bergerak, “ bergerak !` bergerak !, rasakan sensasi dari sebuah gerakan ! “. Jika tidak tubuhnya yang bergerak/lingkungannya diam maka lingkungannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.

Masyarakat disekitar mesjid dan tempat tinggalnya telah mengenal Fian sebagai anak berkebutuhan khusus. Semula tidak ada masalah tentang kehadirannya di mesjid di hari Jum’at itu. Karena dekat dengan rumahnya ia shalat tanpa pendamping. Seorang bapak yang menjadi tamu salah seorang warga dan tidak mengenal Fian kemudian merasa terganggu oleh gerak tubuhnya, lalu ditindak lanjuti dengan penamparan. Meskipun telah ditegur oleh jamaah lain, si penampar bersikeras untuk menjadi penegak ketertiban. Seberapa kuatkah seorang anak berusia 9 tahun menahan tamparan orang dewasa ?. Seberapa besar dampak psikologis sebuah tamparan dibanding rasa sakitnya ?. Patutkah seorang anak mendapat kekerasan ? Di rumah ibadah pula ? Dan sederet pertanyaan lagi yang tidak dimuat pada lembaran kertas ini.

Tidakkah kita mau belajar dari Nabi Muhammad SAW, junjungan kita ? Menurut Amini (2003) meriwayatkan kisah : pada suatu hari, ketika Nabi sedang melakukan shalat berjama’ah, Husain yang masih kecil berada di dekat beliau. Bila Nabi sujud, Husain datang dan naik di punggung beliau lalu menggerak-gerakkan kakinya sambil mengatakan , “Hus,hus”. Jika Nabi hendak mengangkat kepala (bangkit dari sujud), beliau mengambilnya dan meletakkannya di sampingnya. Bila Nabi sujud lagi, Husain naik lagi ke punggung beliau dan mengatakan, “Hus, hus”. Ia terus melakukan itu sampai Nabi SAW selesai shalat. Lalu seorang Yahudi berkata kepadanya, “Wahai Muhammad kalian melakukan sesuatu kepada anak-anak yang kami tidak melakukannya”. Nabi pun menjawab : “ Jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kalian pasti menyayangi anak-anak.” “ Kalau begitu, aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” kata orang Yahudi itu. Ia masuk Islam demi melihat keramahan Rasullullah SAW (dalam Bihar Al-Anwar, XLII, hal.296).

Peristiwa penamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Anda mungkin hanya melihat puncaknya saja yang tersembul dari permukaan. Kami para orang-tua dan anak penyandang autis memikul seluruh berat gunung es itu. Anak-anak kami yang dijahili (bullying) di sekolah, para orangtua yang protes atas program- inklusi, mata yang melotot dan bibir yang mencibir ketika kami bawa anak kami ke dunia luar untuk memperkenalkannya pada kehidupan dan benda-benda disekitarnya, perlakuan yang diskriminatif, pergunjingan dibelakang kami, maaf sekali lagi lembaran kertas ini tidak cukup untuk memuatnya.

Kami dan anak kami yang berkebutuhan khusus tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami. Kami hanya ingin merasakan hak kami untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan. Tohiro boleh menggantung gambar tank dan orang bersenapan hanya untuk hiasan dinding. Idenya yang cemerlang tentang Front Pembela Anak Autis cukup sebatas wacana saja dan jadi bahan kami untuk bisa tertawa mengusir lara.

(Keterangan foto : Tohiro, suka sekali menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja. Ungkapan akan perlawanannya terhadap kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis. Terakhir dia ungkapkan secara verbal bahwa perlu ada Front Pembela Autis (FPAA), Foto ini diambil pada tanggal. 3 November 2007. Lihat : jarinya menunjukkan tanda "V" Victory/Peace-kemenangan melawan kekerasan dan hidup dalam damai.)


Para orangtua anak- penyandang autis, yang tergabung dalam :

Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia

Jl. Boulevard Blok O.I/16, Taman Cimanggu, Bogor 16710

Tel. : 0251 – 8336615, Fax. : 0251 – 8312687

Email : keluargaistimewa@yahoo.co.id

Website : www.ikatankeluargaistimewa.blogspot.com

Kontak person : Musphyanto Chalidaputra, Pembina, HP. 0816 812 892

Senin, 28 Juli 2008

OUTBOUND

AUTISM IN INDEPENDENCE DAY

Dalam acara rutin yang diadakan YKII yaitu salah satunya outbound, YKII akan menyelenggarakan outbound pada :
Hari/ Tanggal : Minggu, 24 Agustus 2008
Jam : 07.00-15.00 WIB
Tempat : Restoran Kebon/ Jala-Jala di Rancamaya Bogor
Bersama ini kami mengundang para orangtua Anak Spesial Need, dan umum untuk mengikuti acara outbound ini. keterangan lebih lanjut bisa menghubungi Sekretariat YKII (0251-336615)


sudah termasuk games Outbound ( Flying Fox, Jaring Kargo, Elvis Walk, Double Line, Origami, Transfer Ball) dan makan siang

YKII THERAPIST AND SIBLING OUTING

YKII akan mengadakan acara jalan-jalan bersama/refreshing yang diikuti oleh para terapis, sibling, relawan dan pengurus ke Taman Nasional Ujung Kulon (Pulau Peucang) pada tanggal 15-17 Agustus 2008. Kegiatan ini adalah bentuk penghargaan kepada pihak-pihak yaitu terapis dan para relawan atas kerjasamanya selama ini ikut aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh IKI/YKII. Semoga untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya akan semakin banyak pihak yang ikut membantu dan berperan serta dalam mensukseskan kegiatan-kegiatan tersebut.

KHITANAN BERSAMA



"AUTIS PEDULI SAHABAT"

YKII telah melaksanakan khitanan bersama pada tanggal 6 Juli 2008 dengan metode Tara Klamp bertempat di sekretariat YKII di Taman Cimanggu Bogor, diikuti oleh 17 anak yang terdiri dari 11 anak special Need (ASN), 5 sabahat (dhuafa) dan 1 sibling. Peserta sahabat adalah anak yang tergolong kurang mampu dan mendapat bantuan biaya dari para dermawan (orang tua ASN), yang merupakan misi dari kegiatan khitanan bersama ini yaitu bentuk kepedulian dari YKII atau anggota terhadap anak yang kurang mampu.


Acara dimulai pada pukul 07.00 WIB, dimulai dengan arak-arakan delman yang mengantarkan anak berkeliling di komplek perum. taman cimanggu untuk menyenangkan anak-anak yang akan dikhitan. Dan dilanjutkan dengan khitan yang dipimpin oleh dr. Yuniar Pukuk kesuma (Tara Klamp Licensed) dan dibantu oleh 1 orang perawat dan 2 dokter lain serta dibantu oleh para relawan untuk mendampingi anak dan orang tua.



Khitan tersebut dilaksanakan dengan cara bergiliran, satu anak ditangani oleh satu dokter dan dibantu oleh perawat/paramedis dan beberapa relawan untuk membantu menenangkan anak selama dokter memasang alat (ring) pada anak. Proses khitan berlangsung sampai jam 11.30 WIB, dan berlangsung dengan lancar. Anak diperiksa lagi dan ring dilepas seminggu sesudahnya.

Reaksi anak bermacam-macam ada yang penuh percaya diri pada awalnya namun kemudian takut, ada yang tidak mau, takut, namun hanya ketika awal dan saat khitannnya. sesudahnya anak tenang dan bahkan ada yang langsung bisa beraktifitas lagi dengan tengkurap dan menggambar, meski kelihatannya dia masih merasa ada yang nempel di bagian tubuhnya.

Setelah anak mendapat giliran langsung bisa pulang dan kontrol lagi dengan dokter seminggu sesudahnya di YKII.

Atas dukungan dari semua pihak, yaitu orangtua, dokter, paramedis dan relawan, khitan bersama ini bisa berjalan dengan lancar.

Senin, 26 Mei 2008

KHITANAN BERSAMA

“AUTIS PEDULI SAHABAT”


Minggu, 6 Juli 2008
Di Sekretariat YKII :
Jl. Boulevard Blok O.1 No 16 Ruko Baru Taman Cimanggu Bogor, Telp : 0251-336615
Jam : 07.00-13.00

Ikatan Keluarga Istimewa / IKI (Sekarang Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia/YKII) Mengajak Keluarga anak penyandang autis untuk melaksanakan khitan bersama anak dhuafa yang akan dilakukan dengan menggunakan metoda ring.

Peserta :
  1. Anak penyandang autis
  2. Sahabat yang disponsori oleh orang tua anak penyandang autis
  3. Sahabat yang disponsori oleh dermawan

Syarat Peserta :

  1. Usia anak 4-14 tahun
  2. Jumlah peserta dibatasi 50 anak yang terdiri dari 15 anak penyandang autis, 15 anak sahabat yang disponsori oleh orang tua anak penyandang autis, 20 anak dhuafa yang disponsori oleh dermawan

Tenaga pelaksana khitanan bersama :

  1. Tim Medis
    3 orang dokter dan 3 orang perawat yang dipimpin oleh dr. Yuniar (Orang tua Fachri-Penyandang autis)
  2. Tim terapis dan pendamping anak
    10 Orang yang terdiri dari praktisi terapis, sahabat istimewa (relawan yang peduli terhadap anak penyandang autis)


Biaya :
Rp. 400.000,-/anak sudah termasuk tindakan medis (khitan) dan bingkisan untuk anak

Metode :

Metode ring (Tara Klamp)

Pada metode ini ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap meregang dengan cara memasang semacam cincin yang terbuat dari karet (silicon), biasanya ujung kulup akan menghitam dan terlepas dengan sendirinya. Proses sunat itu sendiri cukup singkat, sekitar 3-5 menit.

Keunggulan :

  • Tanpa jahitan
  • Tanpa perban
  • Tanpa perdarahan
  • Mencegah infeksi
  • Langsung dapat beraktifiitas

Formulir Pendaftaran

Nama peserta : …………………………………………………………
Nama orang tua peserta : …………………………………………………………
Nama sahabat : …………………………………………………………
Alamat : …………………………………………………………

Biaya khitan dapat ditransfer ke rekening Bank Mandiri Cab.Bogor a/n.Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia : 133.000.708.5574 (bukti transfer harap di fax ke : 0251 – 312687)

Senin, 28 April 2008

BAZAAR AUTISM AWARENESS EXPO DI SUCOFINDO JAKARTA


Dalam bulan Peduli Autis 2008, salah satu aksi IKI adalah menjadi peserta bazaar dalam "Autism Awareness Expo yang diadakan oleh Yayasan Autisma Indonesia tanggal 26 - 27 April 2008. Selain sebagai peserta bazaar IKI juga ikut dalam pameran Lukisan yang memamerkan hasil lukisan anak-anak autis yaitu lukisan ananda Nadira Irina Chairunnisa (9 tahun) dan ananda Dito Fauzan P (11 tahun).



Dalam "Autism Awareness Expo 2008, YAI mengadakan seminar yang diadakan selama 2 hari, hari pertama dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI Ibu Siti Fadillah Supari.

Pada pembukaan ditampilkan Pentas Seni yang dimeriahkan oleh anak-anak Autis sendiri, anak-anak tersebut menampilkan kelebihan mereka masing-masing dihadapan para peserta seminar dan masyarakat luar, pentas seni yang mereka tampilkan permainan Biola oleh Osya, baca puisi, permainan angklung dan ada juga yang menyanyi lhooo....

IKI membuka stand bazaar yang menyajikan informasi seputar kegiatan IKI, juga menjual buku yang diterbitkan oleh IKI yaitu Lukisanku, Duniaku dan buku "Persembahan untuk Anakku, Perjuangan Penyembuhan Autisme melalui Terapi Lumba-Lumba" hasil kerjasama IKI dan Arga Publishing. Untuk buku yang kedua sudah bisa didapatkan di toko-toko buku.

Rabu, 09 April 2008

Ucapan Selamat

IKI mengucapkan selamat kepada ananda Raka Adhi Prakoso Wishnuputra (anggota IKI) atas terpilihnya menjadi juara kedua dalam Lomba menggambar di acara Open House TK/SD An-Nahl Kota Wisata-Cibubur.

Raka



Hasil Karya

Selasa, 08 April 2008

Pameran Lukisan


Lukisan-Lukisan yang dipamerkan

Dalam Rangka bulan peduli autis IKI diberikan kesempatan untuk mengikuti pameran lukisan di BOTANI square, alhamdullillah... berjalan dengan lancar. Sambil memamerkan lukisan-lukisan ananda tercinta juga launching buku pertama IKI yang berjudul 'Lukisanku Duniaku'. Banyak pengunjung bertanya-tanya, apa ini lukisannya langsung? apakah nyontek? mereka terkagum-kagum akan karya anak-anak kita setelah kita jelaskan bahwa itu murni hasil karya mereka dan dapat dibaca dibukunya bagaimana kisah dibalik lukisan tersebut hingga dapat diselesaikan.

Begitu banyaknya pengunjung dan dari berbagai kalangan, mulai yang tidak mengerti autis, guru yang ingin tahu lebih banyak tentang ABK, apalagi sampai bisa menghasilkan sebuah karya, bahkan orang tua yang memiliki ABK tapi malu mengajaknya bersosialisasi, dan banyak lagi yang memasuki stand kita IKI dengan pandangan bertanya-tanya. Semoga dengan telah berjalan dengan lancarnya pameran ini IKI bisa lebih eksis lagi,dan dapat bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkannya.



Panitia dan Relawan dalam Acara Pameran Lukisan


Ayo....teman-teman bergabunglah bersama kami di IKI, semoga IKI merupakan wadah bagi anak-anak kita dengan segala keterbatasannya untuk menuangkan bakat dan karyanya dengan maksimum.
(Marisi S.-Mama Raka)

Buku "Lukisanku, Duniaku"


Sampul Depan


Dalam rangka ikut memberikan kepedulian di Bulan Peduli Autis, IKI mengadakan Pameran Lukisan anak-anak penyandang autis di Botani Square Bogor tanggal 5-6 April 2008, dan juga menguraikan isi dari lukisan tersebut dalam sebuah buku yang berjudul "Lukisanku, Duniaku, warnaku adalah jiwaku, goresanku adalah kata-kataku".


Sampul Belakang


Buku tersebut merupakan bentuk apresiasi, penghormatan, rasa sayang, rasa bangga kami terhadap karya anak-anak yang termasuk ke dalam kelompok anak penyandang autis. selain itu, buku ini juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah Yang Maha Kuasa atas segala kepercayaanNya untu menjaga, merawat, memperhatikan dan mendidik anak-anak penyandang autis.
Goresan anak-anak ini membuktikan bahwa anak-anak istimewa ini juga sama dengan anak-anak normal lainnya. Tuhan melengkapinya juga kekuatan-kekuatan jiwa, seperti perasaan, pikiran, akal sehingga merekapun mampu mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya dalam bentuk lukisan. apa yang terjadi di balik lukisan mereka sangat beragam dan menarik dikisahkan oleh orang-orang yang mencintainya.
Rekaman catatan kisah ini merupakan sumbangan dari anak-anak penyandang autis dan keluarga serta orang-orang sekeliling yang mencintainya kepada generasi kini dan di masa datang. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran keikhlasan bagi kita semua.

Jumat, 04 April 2008

Hari Peduli Autis

Mulai tanggal 2 April 2008 yang ditetapkan sebagai "world autism awareness day" oleh united nations (PBB), IKI turut mengucapkan selamat hari peduli autis. Dengan adanya hari peduli autis ini, semoga semakin banyak kalangan yang ikut peduli serta memberikan apresiasi kepada para penyandang Autistic Spectrum Disorder (ASD) dan juga semoga semua turut memberikan dukungan bagi mereka supaya tercapai kemandirian dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Pameran Lukisan IKI

Dalam rangka menyambut Bulan Peduli Autis Internasional, di Bulan April ini Ikatan Keluarga Istimewa Bogor mengadakan Pameran Lukisan karya anak-anak penyandang Autis di Botani Square Kota Bogor. Acara tersebut diadakan pada:

  • Hari : Sabtu & Minggu
  • Tanggal : 5 - 6 April 2008
  • Jam : 10.00 – 15.00
  • Tempat : Botani Square Lt. 1

Lukisan yang dipamerkan adalah 23 lukisan yang terkumpul pada Lomba Melukis 2007 yang diselenggarakan di penghujung bulan Desember 2007 lalu yang diselenggarakan oleh IKI bekerja sama dengan PT Triman Sentosatama.

Dalam pameran lukisan ini, IKI juga menghadirkan buku katalog lukisan yang berjudul : Lukisanku, duniaku, warna adalah jiwaku, goresan adalah kata-kataku. Di dalam buku ini berisi tentang seputar autisma dan permasalahannya , artikel tentang perkembangan menggambar pada anak terutama special needs, serta cerita dibalik lukisan yaitu cerita dari orangtua atau terapis tentang gambar yang dilukis oleh anak-anak tersebut dan juga tentang riwayat cerita tentang anak itu sendiri.

Kami berharap dengan kegiatan pameran lukisan ini-Di Bulan Peduli Autis-adalah masyarakat umum, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya tergugah untuk berbuat lebih banyak lagi untuk anak-anak spesial ini. karena pada dasarnya mereka juga mempunyai kemampuan dan kelebihan sebagaimana anak-anak lain pada umumnya

Senin, 28 Januari 2008

Wisata Musik Angklung

IKI mengadakan wisata musik angklung di Saung Udjo Bandung, dalam rangka rencana pelaksanaan terapi musik di IKI. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada :

  • Hari/Tanggal : Kamis, 7 Pebruari 2008
  • Waktu : 07.00 – 18.00 WIB
  • Tempat : Saung Angklung Udjo
    Jl. Padasuka No. 118 Bandung

Manfaat yang diharapkan melalui mengikuti Wisata Musik Angklung adalah:

1. Melatih pendengaran dengan membedakan nada angklung dan arah datangnya suara.

2. Membangkitkan minat terhadap musik angklung

3. Membangkitkan kepercayaan diri dan kebanggaan anak atas kemampuannya (self esteem)

4. Melatih suasana kompetensi dan menciptakan suasana gembira

5. Memperkenalkan tentang salah satu alat musik tradisional (angklung)

6. Menjadi ajang silaturrahmi di antara anggota IKI

Susunan Acara ”Wisata Musik Angklung”

10.30 – 11.00 : Belajar Musik Angklung

Anak Autis dan peserta diajarkan bagaimana cara memainkan alat musik angklung.

11.00 – 12.00 : Bermain Musik Angklung bersama

Setelah semua peserta terutama Anak Autis belajar bagaimana memainkan alat musik angklung, inilah
kesempatan untuk mempraktekan keterampilan musik tersebut dengan memainkan beberapa lagu pilihan
secara bersama-sama.

12.00 – 13.00 : I S H O M A



Selasa, 08 Januari 2008

Terapi Musik Untuk Anak Autis di Jakarta

IKI telah mengirimkan wakil dalam acara dialog interaktif dan workshop "Terapi Musik, Perspektif Sains dan Estetika" yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UKRIDA dan majalah INTISARI, yang dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2007 di Balai Betawi Hotel Santika Jakarta.

TERAPI MUSIK IMPROVISASI (TMI) UNTUK PENYANDANG SPEKTRUM AUTISM

Prinsip dasar TMI :

Kebebasan penuh kepada klien dan terapis untuk berimprovisasi tanpa terkekang dengan aturan-aturan musik konvensional

Sasaran TMI :

- Meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa
- Peningkatan kepekaan auditorik (mendengarkan), berkonsentrasi, mengimitasi, bersosialisasi
- q Menyediakan ruang bermain anak-anak dan berekspresi secara bebas

Dasar pelaksanaan terapi musik :

- Menyertakan elemen-elemen musik : Pitch, tempo, timbre dan dinamika

Langkah-langkah model TMI :

- Asesmen

- Rencana perlakuan

- Intervensi dan pencatatan perlakuan

q - Evaluasi dan Terminasi Perlakuan

Ragam improvisasi permainan musik :

- Bermain Alat Musik

- Mendengar Musik

q - Bernyanyi

Senin, 07 Januari 2008

Lomba Melukis IKI - 2007

IKI bekerja sama dengan PT Triman Sentosatama Jakarta menyelenggarakan lomba melukis untuk anak-anak penyandang autism segala umur, pada tanggal 2 Desember 2007 sampai 2 Januari 2008. Dalam pelaksanaan lomba melukis, anak-anak melukis di rumah dan hasilnya dikumpulkan di Sekretariat IKI. Lukisan yang dikirimkan menjadi milik IKI, kecuali 6 lukisan terpilih akan digunakan untuk dekorasi kantor PT Triman Sentosatama.

Pemilihan lukisan terpilih dilaksanakan pada tanggal 6 Januari 2008, pada saat pertemuan bulanan anggota, di kediaman Bapak Jaya Sukmana, perumahan Pandan Valley Blok B1 No. 2 Bogor.

Pada lomba ini telah diterima 23 lukisan, hasil karya dari 18 anak penyandang autis dengan rentang usia mulai 6 sampai 12 tahun. Dari 23 lukisan tersebut telah terpilih 6 lukisan yang akan menerima hadiah berupa uang sebesar Rp. 250.000,00 untuk anak dan Rp. 150.000,00 untuk orangtua atau terapis yang membimbing anak atau sekolah tempat anak belajar (tergantung siapa yg ditunjuk/ditetapkan oleh anak).

Penentuan 6 lukisan terpilih tersebut kami lakukan berdasarkan :

a. Ketepatan ukuran, yaitu 60 cm x 40 cm bidang gambar, landscape dengan sisi putih masing masing 5 cm ke ujung kertas pada ke-4 sisinya. Gambar yang tepat mendapat nilai 3, sedangkan yang tidak sesuai mendapat nilai 1.

b. Ketepatan waktu penyerahan, yaitu Tgl. 2 Januari 2008. Gambar yang diterima sebelum atau pada tanggal 2 Januari 2008, Mendapat nilai 3, sedangkan yang diterima sesudahnya mendapat nilai 1.

c. Kesesuaian Judul dengan lukisan. Dengan nilai sebagai berikut : Tidak Sesuai = 1, Mendekati = 2, Sesuai = 3.

d. Keindahan. Dengan nilai : Indah = 1, Indah sekali = 2, Sangat indah sekali = 3

Kriteria tersebut kami tetapkan setelah mempertimbangkan bahwa :

1) Perkembangan kemampuan menggambar anak pada umumnya melalui beberapa tahap sejalan dengan usianya,

2) Perkembangan kemampuan menggambar anak penyandang autis sangat spesifik dan berbeda dengan anak pada umumnya dan berbeda pula antara anak satu dan lainnya yang seusia,

3) Ketepatan ukuran dan waktu sudah disebutkan dalam persyaratan lomba,

4) Kesuaian Judul : adalah mencocokkan antara judul yang diberikan dan lukisannya.

5) Keindahan : dapat mewakili atau merupakan penjumlahan dari beberapa aspek teknis sebuah lukisan, yaitu : pemilihan warna, bentuk goresan/sapuan, detil objek, kreatifitas dan lain-lain..

Cara penentuan :

1) Setiap lukisan diberi nomor urut dan ditempelkan pada corrugated plastik berwarna hitam ukuran : 60 x 90 Cm.

2) Setiap lukisan ditampilkan selama 1 menit secara bergiliran untuk dinilai oleh tim penilai.


Tim Penilai :

1) Adalah semua anggota IKI yang hadir pada pertemuan bulanan, Tanggal 6 Januari 2008.

2) Tim penilai tidak mempunyai hubungan dengan anak peserta, baik untuk terapi maupun keluarga.

3) Jumlah Tim Penilai setelah diseleksi berdasarkan ketentuan diatas ada sebanyak 7 orang.


6 Lukisan yang terpilih adalah hasil karya dari :

1. Nadira Irina Chairunnisa (9 thn), dengan judul : Mobil di Jalan Raya



2. Tohiro Desnanda (11 thn), dengan judul : Pantai Lovina dan Pekarangan Rumahku






3. Nisrina Indah Puspitasari (10 thn), dengan judul : Bunga Kembang Sepatu dan Kupu-Kupu



4. Dito Fauzan P. (11 thn), dengan judul : Kendaraan di Jalan Raya



5. Endyea Muladno (10 thn), dengan judul : Ikan dalam Aquarium di Rumahku