Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2009

Program Ketrampilan Hidup YKII

Deskripsi :
Memproduksi dan memasarkan Alas Kloset Duduk ( ALASKU) dari koran bekas oleh anak-anak binaan YKII

Tujuan utama :
- Memberikan pemahaman kepada anak bahwa uang dapat diperoleh dengan cara memproduksi barang dan menjualnya.

Tujuan lainnya :
- Melatih motorik halus, kordinasi mata dan jari serta konsentrasi dengan kegiatan melipat dan menggunting kertas

Peserta :
Anak autisme dan spektrumnya dan ABK lainnya yang bergabung ke YKII.

Tata – cara :
1. Orangtua mendaftarkan anaknya ke YKII untuk ikut serta dalam program ini.
2. YKII memberikan pelatihan kepada orangtua, guru pendamping dan relawan tentang cara pembuatan ALASKU, standar kwalitas dan mekanisme perdagangannya.
3. Kemudian anak binaan mendapat pelatihan baik oleh orangtua, guru pendamping atau relawan YKII,
4. Anak berproduksi di rumah masing-masing dengan bimbingan orangtua, keluarga, guru pendamping. Bimbingan terbatas pada pengaturan jam kerja, jumlah produksi, dan kwalitas barang.
5. Hasil produksi dapat dijual ke Sekretariat YKII pada hari Sabtu atau Minggu oleh anak binaan yang bersangkutan. YKII membeli hasil produksi berdasarkan perhitungan ekonomi (lihat perhitungan).
6. Orangtua, guru pendamping atau relawan YKII yang terlibat dianjurkan untuk membimbing anak binaan tentang penggunaan uang hasil penjualan tersebut. Antara lain dengan memberikan pemahaman bahwa : berproduksi dapat menghasilkan uang, uang dapat`memenuhi kebutuhan hidup. Meskipun demikian uang bukan segalanya.
7. YKII kemudian menjual ALASKU ke gedung-gedung perkantoran atau toilet umum yang membutuhkan.

Perhitungan ekonomi :
1 Kg Koran bekas berisi 53 lembar.
1 lembar koran = 4 lembar ALASKU
1 kg koran bekas = 212 ALASKU
Harga 1 kg koran bekas di pengepul keliling = Rp. 800,--
Harga pembelian YKII = Rp. 25,-/lembar ALASKU
Harga pembelian 212 lembar ALASKU = 212 x Rp. 25,-, = Rp. 5.300,--
Nilai tambah = Rp. 5300,- : Rp. 800 x 100% = 662 % + manfaat terapi & pendidikan.

Jadwal :
Pendaftaran dan pelatihan 1 – 10 Oktober 2009.
Pembelian hasil produksi : Mulai 11 Oktober 2009
Penjualan perdana (Launching ) : 20 Oktober 2009 ( Hari Kebangkitan Nasional)
Penjualan ke pihak ketiga mulai 1 November 2009

Contoh : Brosur pemasaran YKII

ALAS KLOSET DUDUK (ALASKU)


ALASKU adalah kertas alas kloset duduk hasil daur ulang koran bekas yang diproduksi oleh anak-anak autis dan spektrumnya dibawah binaan Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia, Bogor
dalam rangka Program Terapi dan Pendidikan Keterampilan Hidup.



Dengan menggunakan ALASKU berarti anda :
√ Telah menjaga kebersihan & kesehatan pribadi.
√ Turut membantu penanganan autisme dan spektrumnya. (Melipat dan menggunting adalah bentuk terapi motorik halus, kordinasi mata & tangan serta latihan konsentrasi. Sedangkan produksi dan pemasaran ALASKU adalah bagian pendidikan wirausaha bagi anak-anak binaan untuk hidup mandiri dikemudian hari)
√ Turut melestarikan alam dengan melakukan daur ulang

CARA PENGGUNAAN


1. Buka ALASKU dari lipatannya.
2. Lipat kedua lidah ke sisi bagian luar
3. Letakkan di atas kloset duduk ( lihat foto).
4. Kloset siap digunakan.
5. Buang ALASKU ke tempat sampah setelah digunakan




Donasi untuk program ALASKU harap ditujukan kepada :

Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia
Jl. Boulevard Blok O.I/16, Taman Cimanggu, Bogor 16710
Tel: 0251-8336615, Fax :0251-8312687,
Situs : www.ikatankeluargaistimewa.blogspot.com
Bank Mandiri Kantor Cabang Bogor A/C # 133-00-0708557-4

Minggu, 20 September 2009

Buka Bersama Anggota, relawan dan para pemerhati YKII

Pada Tanggal 12 September 2009 di bulan Ramadlan, YKII berkesempatan mengadakan Buka bersama untuk mempererat jalinan tali silaturrahmi antara Anggota, Pengurus, Relawan dan para pemerhati yang peduli terhadap anak autis.



Pada kesempatan ini juga dipresentasikan hasil dari terapi berkuda yang dilakukan oleh YKII bekerjasama dengan mahasiswa dari FKH IPB, dengan peserta terapi adalah anak-anak YKII

Senin, 01 Juni 2009

Komunitas Sekolahrumah (Homeschooling Community) Keluarga Istimewa

Setiap insan di Indonesia memiliki hak atas pendidikan. Hal ini semakin diperkuat dengan program pemerintah Wajib Belajar (WAJAR) 9 tahun. Namun, sekarang ini lebih dari 4,5 juta anak Indonesia berusia 7 sampai 15 tahun tetap di luar sekolah. Di lain pihak, jumlah remaja dan orang dewasa di Indonesia mengalami putus sekolah karena berbagai masalah sosial dan ekonomi semakin bertambah.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia (YKII) memberikan alternatif solusi dengan membentuk satuan pendidikan non formal yaitu Komunitas sekolahrumah 'Keluarga Istimewa'.

VISI
Menjadi Komunitas Sekolahrumah yang berkualitas prima di Kota Bogor dan sekitarnya

MISI

  • Membentuk manusia Indonesia yang berakhlak mulia, mandiri, berkarakter produktif dan berdaya saing yang berperan serta dalam peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
  • Mencapai kompetensi individual seoptimal mungkin
  • Membantu setiap individu untuk berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata.

TUJUAN

  • Membantu pemerintah negara Republik Indonesia dalam penyediaan pendidikan dasar dan menengah yang bermutu dalam rangka penuntasan wajib belajar 9 tahun melalui pendidikan nonformal Sekolahrumah.
  • Memfasilitasi, membina dan mengayomi peserta didik yang memerlukan pendidikan akademik dan kecakapan hidup secara fleksibel untuk meningkatkan mutu kehidupannya.

Selasa, 14 April 2009

amandemen Kegiatan Dukungan

Berhubung dengan adanya beberapa kesulitan antara lain :
- Kesulitan untuk mendapatkan tenaga Guru Pembimbing Khusus (GPK) dengan kualifikasi akademik minimal D-IV atau sarjana (S-1) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan khusus/Pendidikan Luar Biasa, sebagaimana dideskripsikan dalam buku Model Penyelenggaraan Pendidikan Khusus di Provinsi Jawa Barat diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tanggal 3 Juni 2008 Bab IV Sub D Pendidik dan tenaga kependidikan poin 4 (halaman 13),
- waktu yang tersedia untuk rekruitmen sangat singkat
- beberapa tenaga GPK yang saat ini bernaung di bawah YKII sudah terisi penuh jadwalnya dengan pendampingan anak yang lain, maka proposal “Dukungan Proses Belajar-Mengajar Kelas Reguler Inklusi oleh Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia Kepada Sekolah Dasar Negeri Semeru 6 Bogor” tanggal 8 April 2009 perlu dilakukan perubahan sebagai berikut :

 Jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK-autistik) yang mendapat pendampingan menjadi 4 (empat) anak yaitu yang saat ini duduk di kelas 5; dengan pertimbangan bahwa anak-anak tersebut akan menghadapi Ujian Akhir Nasional tahun 2010 sehingga perlu diprioritaskan
 Jumlah GPK menjadi 1 orang yaitu Ibu Ernawati, SPd., daftar riwayat hidup terlampir
 Durasi pertemuan = 3 x 35’ / 2 ABK / 2 mata pelajaran
 Banyaknya pertemuan 6 x pertemuan berhubung tanggal 9 Mei adalah hari libur nasional
 Jadwal pertemuan terbaru terlampir
 Dengan hanya ada 1 (satu) GPK maka tenaga koordinator dihapuskan

Senin, 13 April 2009

Dukungan Belajar Mengajar Kelas Reguler Inklusi

Sebagai tindak lanjut dari kerjasama Inhouse Training Pendidikan Inklusi bagi Tenaga Pendidik di SDN Semeru 6 Bogor yang diadakan Januari 2009 yang lalu, YKII kembali mengadakan kerjasama dalam proses belajar mengajar Kelas Reguler Inklusi.
Dukungan tersebut berupa penyediaan tenaga Guru Pembimbing Khusus yang bernaung di bawah YKII untuk kegiatan belajar-mengajar dalam rangka penerapan Kelas Reguler Inklusi Pull Out.

Maksud dan Tujuan
Terselenggaranya pendidikan inklusi di SDN Semeru 6 Bogor dengan baik dan lancar.

KELUARAN

Kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan :
1. Kemudahan bagi ABK peserta kegiatan untuk menerima mata pelajaran tertentu yang mengalami hambatan.
2. Contoh kerjasama dan dukungan masyarakat pada kegiatan belajar-mengajar Kelas reguler inklusi ABK khususnya autistik

PERIODE KEGIATAN PENDAMPINGAN
16 APRIL – 30 JUNI 2009 dengan mata kegiatan sebagai berikut :
- Pertemuan teknis awal kegiatan : 25 April 2009
- Pelaksanaan pendampingan : 27April – 15 Juni 2009
- Pertemuan Evaluasi ke 1 : 27 Mei 2009
- Pertemuan Evaluasi ke 2 : 30 Juni 2009

MODEL KELAS INKLUSI
Model pendidikan inklusi yang akan diterapkan pada dukungan ini adalah Model kelas inklusi – pull out, yaitu : ABK belajar bersama anak (normal) di kelas regular namun pada mata pelajaran yang mengalami hambatan anak ditarik dari kelas regular ke ruang sumber (ruang komputer atau lingkungan SD Semeru 6 yang sesuai) untuk belajar dengan guru pembimbing khusus untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran.

JAM & MATA PELAJARAN
Jam pelajaran ditetapkan sebagi berikut :
2 mata pelajaran untuk 1 ABK = 2 x 35 menit / pertemuan
2 mata pelajaran untuk 2 ABK = 3 x 35 menit / pertemuan
Peserta didik ABK yang mengalami hambatan pada mata pelajaran yang sama dan berasal dari kelas yang sama dapat digabungkan dengan rasio maksimum 2 peserta didik : 1 guru pembimbing khusus, kecuali atas pertimbangan lain dapat 1:1
Mata pelajaran yang diberikan adalah mata pelajaran yang berdasarkan evaluasi guru kelas mengalami hambatan.

GURU PEMBIMBING KHUSUS
Guru pembimbing khusus (GPK), adalah tenaga pendidik yang direkrut dan bernaung dibawah YKII bertugas memberikan bimbingan pada mata pelajaran dan jadwal yang ditetapkan. GPK adalah tenaga pendidik yang kompeten dibidangnya yang bekerja paruh waktu dengan honorarium.

GPK bertugas untuk :
1. Membimbing dan mengajar ABK sesuai mata pelajaran dan jadwal pelajaran yang ditetapkan menurut jadwal.
2. Mengevaluasi prestasi masing-masing ABK termasuk memberikan saran dan masukan kepada wali kelas masing-masing.
3. Menghimpun dan mengkompilasi hasil prestasi ABK kepada koordinator kegiatan pendampingan.
4. Menyiapkan semua fasilitas dan alat bantu sebelum dan sesudah pembelajaran.
.
KORDINATOR KEGIATAN PENDAMPINGAN
Kordinator pendampingan adalah tenaga professional yang direkrut oleh YKII yang bekerja paruh waktu selama periode 15 April – 30 Juni 2009, bertugas untuk :
1. Mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pendampingan agar maksud dan tujuannya tercapai.
2. Menghimpun dan mengkompilasi laporan-laporan, dokumentasi kegiatan.
3. Memeriksa dan memastikan bahwa semua fasilitas dan material / alat bantu pembelajaran sudah tercukupi.
4. Memeriksa dan memastikan bahwa pendampingan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar.
5. Meminta dan mengatur advokasi dari Guru Pembimbing Khusus untuk keberhasilan kegiatan pendampingan dan pemecahan masalah-masalah bilamana ada.
6. Menyusun laporan pelaksanaan, evaluasi dan saran-saran untuk perbaikan dan menyerahkannya kepada YKII dan SDN Semeru 6 Bogor selambat-lambatnya pada 30 juni 2009.

PEMBIAYAAN
Biaya kegiatan pendampingan ini berasal dari pada Kas dan donasi yang dihimpun oleh YKII

Bahan bacaan :
1. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Dirjen. Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas, 2004.
2. Model Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi Jawa Barat yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 3 Juni 2008

Minggu, 12 April 2009

Hijaulah Sekolahku

Dalam rangka memperingati "World Autism Awareness Day" yang bertepatan pada tanggal 2 April 2009 dan juga "International Earth Day" pada tanggal 22 APRIL 2009 yang sama-sama bertepatan di bulan April ini, YKII akan mengadakan kegiatan bertema " Hijaulah Seklahku". Kegiatan ini akan dilakukan di 3 Sekolah Dasar Negeri Inklusi di Kota Bogor yaitu di SDN Semeru 6, SDN Perwira dan SDN Batu Tulis 2.
Beberapa rangkaian kegiatan ini antara lain adalah :
- Pemeriksaan hygiene sanitasi makanan yang dijajakan di lingkungan 3 SDN Inklusi, waktu masih konfirmasi
- Presentasi dan pelatihan hygiene sanitasi makanan, 23 April 2009
- Penyehatan lingkungan Sekolah, 25 April 2009
* Ceramah tentang kebersihan lingkungan dan bahaya sampah plastik
* Lomba mengumpulkan sampah yang ada di lingkungan sekolah.
* Demo dan praktek cuci tangan yang baik dan benar.
* Penanaman pohon pelindung, bantuan dari Departemen Kehutanan

Peserta yang akan dilibatkan dalam kegiatan ini adalah :
- Penjaja makanan di lingkungan SDN Inklusi yang diambil secara acak
- Tenaga dan staff pendidik SDN
- Komite Sekolah
- Para penjaja makanan
- Staff dan tenaga pengajar.
- Peserta didik kelas 3 sd 5
- Komite Sekolah dan para orangtua
- YKII dan para relawan.
- Staff dan customer PT. Triman Sentosatama

Maksud dan Tujuan Kegiatan adalah :
Membangun pengertian tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan, membentuk perilaku hidup bersih dan sehat serta menciptakan suasana 3 buah Sekolah Dasar Negeri Inklusi di Bogor yang bersih, sehat dan nyaman.

Waktu pelaksanaan kegiatan ini

Jumat, 10 April 2009

Artikel Peduli Autis

Artikel YKII yang dimuat dalam majalah Bening-BAZNAS (10 April 2009)yang berjudul :

Mereka Butuh Hidup Berdampingan
Memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia)


Fiandi adalah seorang anak ‘istimewa’ penyandang autis yang kini duduk di bangku kelas 3 SD inklusi. Alkisah, suatu hari pada Agustus 2008, ia ditampar orang usai ikut sholat Jumat di sebuah mesjid di Kotamadya Bogor. Salah satu jamaah didekatnya itu merasa terganggu dan langsung memukulnya usai sholat, hanya karena ia tidak fokus saat sholat.

Seberapa kuatkah seorang anak yang baru berusia 9 tahun menahan tamparan orang dewasa? Seberapa besar dampak psikologis sebuah tamparan dibanding rasa sakitnya? Patutkah seorang anak mendapat kekerasan di rumah ibadah pula? Sepatutnyalah Peristiwa yang menyayat hati semacam ini menjadi perhatian kita semua, mengingat masih banyak Fiandi-Fiandi lain yang kurang beruntung di dunia ini.

Taruhlah Tohiro, seorang anak yang juga penyandang autis, ia mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap teman-temannya. Sang anak suka sekali menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja. Ungkapan akan perlawanannya terhadap kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis sepertinya.

Bahkan kepedulian tersebut dia ungkapkan secara verbal bahwa perlu adanya Front Pembela Anak Autis (FPAA). FPAA adalah singkatan yang mirip dengan sebuah kelompok yang pernah hangat dalam pemberitaan TV dan koran. Suatu nalar yang spontan dari seorang anak penyandang autis.

Autisme sendiri adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Seorang anak penyandang autis karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya selalu ingin bergerak, populer dengan istilah hiperaktif atau hiperkinesis atau puluhan istilah ilmiah lainnya. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirimkan perintah-perintah ke tubuhnya untuk bergerak, “ bergerak!` bergerak !, rasakan sensasi dari sebuah gerakan ! “. Jika tidak tubuhnya yang bergerak/lingkungannya diam maka lingkungangannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.

Jumlah penyandang autisme di seluruh dunia telah mencapai 35 juta jiwa. Karena itu sudah waktunya untuk bahu membahu meningkatkan kepedulian terhadap masalah autism ini. Wakil delegasi PBB dari Qatar, Nassir Abdelaziz Al-Nassir yang dikenal di negaranya sebagai aktivis pembela hak azasi individu penyandang cacat telah berhasil mengangkat masalah autisme sebagai salah satu agenda tahunan PBB. Tanggal 2 April ditetapkan sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Agenda yang akan dibahas adalah penanggulangan autisme di bidang diagnosa, riset, intervensi perilaku pada usia dini dan pengobatan.

Sampai saat ini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan autisme ini. Berbagai terapi terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain adalah terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan biomedis, diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah tersedia di beberapa kota besar.

Dalam hal pendidikan, kecerdasan setiap individu sangat bervariasi. Karenanya, intensitas gejala autistik yang ada pada setiap individu juga tidak sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari ‘bisa mencapai pendidikan setinggi-tinggi mungkin’, sampai ‘tidak bisa dididik tetapi hanya dapat dilatih saja’.

Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, sehingga tidak bisa diistilahkan “dapat disembuhkan“. Hanya individu autistik ini dapat ditatalaksana agar bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas semaksimal mungkin, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.

Peristiwa penamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Kami para orangtua dan anak penyandang autis memikul seluruh berat gunung es itu. Anak-anak kami yang dijahili (bullying) di sekolah, mata yang melotot, dicibir ketika kami bawa anak kami ke dunia luar, dan perlakuan yang diskriminatif lainnya telah kami dapatkan. Di hari spesial memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia ini, Kami hanya ingin merasakan hak kami untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan.

Kamis, 02 April 2009

AUTISM AWARENESS DAY

YKII turut mengucapkan...peduli for autism, kapanpun, dimanapun. Semoga semakin banyak yang memberikan perhatian kepada mereka.

Kamis, 19 Februari 2009

Ditemukan anak dan hilang


(foto diambil pada saat berada di polresta Bogor oleh petugas polresta)

YKII beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 8 Februari 2009, mendapatkan kabar ditemukan anak dengan gangguan komunikasi, kabar tersebut didapatkan dari Ibu Teti Ichsan (Perkumpulan Peduli Anak). Setelah beberapa relawan mendatangi lokasi keberadaan anak tersebut (Polresta Bogor), ternyata anak tersebut sudah kabur.

Kronologis :
Berdasarkan keterangan yang didapatkan cerita tersebut bermula dari datangnya berita/telp kepada Polresta dari seorang mahasiswa MM IPB (ferly) yang sedang berada di depan Universitas Pakuan Bogor jam 23.00 hari Sabtu tanggal 7 Februari 2009, yang mengabarkan bahwa ada seorang anak perempuan ada di daerah tersebut tanpa jelas rumah dan keluarganya. Petugas dari Polsek Bogor Tengah menjemput anak tersebut (menurut Ferly bernama Lia) dan dibawa ke Polresta Bogor dan sampai di sana jam 00.00. Ferly menunggu di Polresta sampai jam 02.00. Lia berada di Polresta dan dijaga oleh beberapa petugas kepolisian dan tertidur. Pada pukul 05.15 ketika Lia terbangun, dia langsung panik dan lari keluar kantor ke jalan raya menuju arah Citeureup Bogor dan beberapa petugas berusaha mengejar Lia tapi karena khawatir Lia panik dan tertabrak kendaraan maka petugas berhenti mengejar dan Lia pun hilang belum ada kabar, sampai berita ini kami sampaikan. Berita tersebut dikabarkan oleh petugas kepolisian yang bernama Wawan kepada ibu Teti Ichsan yang kebetulan dikenalnya sebagai pemilik klinik terapi anak berkebutuhan khusus. Ibu Teti Ichsan mengabarkan kejadian tersebut kepada salah seorang pengurus YKII dan beberapa relawan yang diutus untuk melihat keberadaan anak tersebut di Polresta sudah tidak mendapati anak tersebut pada jam 07.45 tanggal 8 Februari 2009.

YKII

Jumat, 23 Januari 2009

YKII-Peduli Pendidikan


Pada tanggal 20-22 Januari 2009 YKII mengikutkan 9 orang dalam training ESQ-Peduli Pendidikan di Desa Gumati, Sukaraja Bogor. Peserta yang diikutsertakan adalah para pendidik di SDIT Al Yasmin, SDN Batu Tulis 2, SMPN 9, SMP PGRI 9 Kota Bogor.

Jumat, 26 Desember 2008

YKII-ESQ Peduli Pendidikan


Pada Kegiatan yang diadakan ESQ dalam program Peduli pendidikan pada tanggal 23-25 Desember 2008 di Menara 165 Jakarta, YKII berkesempatan untuk mengikutsertakan 5 peserta yang berasal dari 2 sekolah inklusi yaitu SDN Perwira dan SDN Semeru 6 Kota Bogor dan 1 peserta dari Rumah Pintar yang membina dan mendidik anak-anak yang kurang mampu.

Semoga dengan kerjasama ini, bisa semakin menambah tali silaturahmi antara instansi yang khususnya menangani anak autis dan meningkatkan kualitas diri para "pahlawan" pendidikan kita.

Sabtu, 29 November 2008

Diskusi tentang Pendidikan Inklusif

Pada tanggal 27 November 2008, YKII memprakarsai terselenggaranya kegiatan diskusi tentang " Peran Serta para Pemerhati dan Praktisi Penanganan Anak Autisme Dalam Mensukseskan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Sesuai UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional". Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus Manajemen Bisnis IPB Jl. Raya Pajajaran Bogor dan dihadiri oleh Kasubdit Dikdasmen Dinas Pendidikan Kota Bogor Bapak Drs. Chasrodi, MPd dan perwakilan dari Sekolah-Sekolah dari tingkat TK, SD dan SMP Bogor, juga dihadiri perwakilan dari Klinik terapi, Dokter anak dan pemerhati autis.


Tujuan dari kegiatan ini adalah terjalinnya komunikasi yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi anak autisme dan spektrumnya dan memanfaatkan semua potensi yang ada di Kota Bogor.


Kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam diskusi ini adalah :

  • Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah amanah dari Allah terhadap orang tua, guru dan masyarakat, yang harus dibina agar bisa mandiri dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ABK juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
  • Jumlah anak berkebutuhan khusus yang semakin banyak masih menghadapi kendala dalam memperoleh haknya sebagai warga negara untuk memperoleh pendidikan. Sebagian besar sekolah negeri (tingkat kanak kanak sampai lanjutan) masih enggan menerima anak berkebutuhan khusus untuk belajar di tempatnya dengan berbagai macam alasan.
  • Penyelenggaraan pendidikan inlusif yang sudah dilandasi dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional perlu diimplementasikan bagi masa depan anak berkebutuhan khusus, dengan merumuskan sistem, pola, kurikulum, dan penyiapan tenaga guru yang benar-benar memahami ABK.
  • Beberapa unsur masyarakat dan kalangan pendidik yang memperhatikan anak kebutuhan khusus telah ada dan semakin banyak namun masih berjalan sendiri sendiri dan kurang solid dalam membantu menyiapkan masa depan ABK.
  • Pokja inklusi yang sudah ada perlu diperkuat dengan menambah berbagai unsur dan bidang-bidang keahlian agar memiliki daya dorong yang kuat secara politis dan sosial terhadap implementasi sekolah inklusif terhadap ABK
  • Pokja pendidikan inklusi yang idealnya terdiri dari berbagai unsur seperti birokrat, guru, dokter, tokoh, ahli pangan/gizi perlu segera didirikan untuk mengefektifkan kegiatan yang didedikasikan kepada anak berkebutuhan khusus

Senin, 25 Agustus 2008

"....outbOund....



YKII mengadakan kegiatan outbound dengan tema "Autism in Independence Day" pada tanggal 24 Agustus 2008 di Restoran Jala-jala Rancamaya Bogor. Kegiatan ini diikuti 72 orang yaitu anak-anak, orangtua, relawan, terapis, guru pendamping dan para sahabat istimewa.





Senin, 04 Agustus 2008

Front Pembela Anak Autis (FPAA)

“Kenapa sih, tidak FPAA saja ?” kata anak Tohiro (11 thn) tiba-tiba nyeletuk di tengah pembicaraan kami yang sedang menyusun kegiatan FBTA – Fasilitas Bersama Terapi Autis – milik yayasan yang kami kelola. “Apa itu FPAA?” tukas kami hampir serentak.” Front pembela anak autis !” jawabnya sambil berlalu tanpa ekspresi dan kembali dalam kesibukannya menggambar mobil tank dan orang yang mengacungkan senapan. Kami semua yang berada di ruangan itu, merasa geli dan tertawa kecut menghubungkan singkatan FPAA dengan singkatan yang mirip yang pernah hangat dalam pemberitaan TV dan koran. Suatu nalar yang spontan dari seorang anak penyandang autis.

Belum sampai satu bulan dari “protes” Tohiro tentang FBTA, belum hilang rasa geli kami, masih banyak spanduk – spanduk dan poster poster tentang Hari Anak terpampang di jalan – jalan raya, kami benar benar dibuat kecut oleh kejadian hari Jum’at tanggal 1 Agustus 2008, di sebuah mesjid di Kotamadya Bogor. Fian ( 9 thn, murid kelas 3, SD inklusi), seorang anak penyandang autis telah ditampar hanya karena ia tidak fokus (khusyuk) ketika shalat jum’at oleh seorang jama’ah (dewasa) yang merasa terganggu.

Hati kami tersayat, air mata membasahi papan ketik menceritakan kisah duka ini, nyali menjadi ciut untuk menunaikan amanah Allah SWT membesarkan anak yang berkebutuhan khusus di negeri tercinta yang penuh kekerasan ini. Perlukah kami memiliki sebuah tank dan senapan teracung untuk meraih hak kami hidup berdampingan ?

Fian tinggal dekat mesjid itu, dan sudah merupakan kebiasaannya ikut shalat berjamaah. Tentang ketaatan pada waktu, jangan tanya Fian dan anak penyandang autis pada umumnya. Mereka sangat taat jadwal bahkan aktifitas rutinnya telah diatur oleh prosedur tetap (protap) yang tertanam dalam otaknya. Ketaatan mereka dapat mengalahkan ketaatan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun. Lihat saja Tohiro atau Raafi (10 tahun) mereka segera mengambil wudlu dan mengerjakan shalat apabila jam tubuhnya membunyikan tanda yang 5 waktu tiba. Protapnya Tohiro mengatakan : “baca Al Qur’an setelah salam, buat tanda pada ayat terakhir yang dibaca, untuk dilanjutkan setelah shalat berikutnya “ Protap ini membuatnya khatam Al Qur’an pada usia yang sangat muda. Mereka akan merasa tidak nyaman apabila rutinitas itu berubah, bahkan dapat menjadi tantrum (marah). Protapnya Raafi lain lagi, ia harus shalat di shaf pertama dan datang lebih awal untuk mendapatkannya. Sering ia disuruh pindah kebelakang karena dianggap tidak pantas, ia kemudian menyelinap dengan berbagai cara untuk mengambil kembali haknya. Kelebihan – kelebihan itu hanya diketahui dan dilihat oleh keluarga dekatnya. Tetapi masyarakat – maaf`- bahkan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun hanya melihat dan mengetahui kekurangan – kekurangan anak penyandang autis. Ini yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa penamparan tersebut.

Anak penyandang autis (antara lain) karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya selalu ingin bergerak, populer dengan istilah hiperaktif atau hiperkinesis atau puluhan istilah ilmiah lainnya,. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirimkan perintah – perintah ke tubuhnya untuk bergerak, “ bergerak !` bergerak !, rasakan sensasi dari sebuah gerakan ! “. Jika tidak tubuhnya yang bergerak/lingkungannya diam maka lingkungannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.

Masyarakat disekitar mesjid dan tempat tinggalnya telah mengenal Fian sebagai anak berkebutuhan khusus. Semula tidak ada masalah tentang kehadirannya di mesjid di hari Jum’at itu. Karena dekat dengan rumahnya ia shalat tanpa pendamping. Seorang bapak yang menjadi tamu salah seorang warga dan tidak mengenal Fian kemudian merasa terganggu oleh gerak tubuhnya, lalu ditindak lanjuti dengan penamparan. Meskipun telah ditegur oleh jamaah lain, si penampar bersikeras untuk menjadi penegak ketertiban. Seberapa kuatkah seorang anak berusia 9 tahun menahan tamparan orang dewasa ?. Seberapa besar dampak psikologis sebuah tamparan dibanding rasa sakitnya ?. Patutkah seorang anak mendapat kekerasan ? Di rumah ibadah pula ? Dan sederet pertanyaan lagi yang tidak dimuat pada lembaran kertas ini.

Tidakkah kita mau belajar dari Nabi Muhammad SAW, junjungan kita ? Menurut Amini (2003) meriwayatkan kisah : pada suatu hari, ketika Nabi sedang melakukan shalat berjama’ah, Husain yang masih kecil berada di dekat beliau. Bila Nabi sujud, Husain datang dan naik di punggung beliau lalu menggerak-gerakkan kakinya sambil mengatakan , “Hus,hus”. Jika Nabi hendak mengangkat kepala (bangkit dari sujud), beliau mengambilnya dan meletakkannya di sampingnya. Bila Nabi sujud lagi, Husain naik lagi ke punggung beliau dan mengatakan, “Hus, hus”. Ia terus melakukan itu sampai Nabi SAW selesai shalat. Lalu seorang Yahudi berkata kepadanya, “Wahai Muhammad kalian melakukan sesuatu kepada anak-anak yang kami tidak melakukannya”. Nabi pun menjawab : “ Jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kalian pasti menyayangi anak-anak.” “ Kalau begitu, aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” kata orang Yahudi itu. Ia masuk Islam demi melihat keramahan Rasullullah SAW (dalam Bihar Al-Anwar, XLII, hal.296).

Peristiwa penamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Anda mungkin hanya melihat puncaknya saja yang tersembul dari permukaan. Kami para orang-tua dan anak penyandang autis memikul seluruh berat gunung es itu. Anak-anak kami yang dijahili (bullying) di sekolah, para orangtua yang protes atas program- inklusi, mata yang melotot dan bibir yang mencibir ketika kami bawa anak kami ke dunia luar untuk memperkenalkannya pada kehidupan dan benda-benda disekitarnya, perlakuan yang diskriminatif, pergunjingan dibelakang kami, maaf sekali lagi lembaran kertas ini tidak cukup untuk memuatnya.

Kami dan anak kami yang berkebutuhan khusus tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami. Kami hanya ingin merasakan hak kami untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan. Tohiro boleh menggantung gambar tank dan orang bersenapan hanya untuk hiasan dinding. Idenya yang cemerlang tentang Front Pembela Anak Autis cukup sebatas wacana saja dan jadi bahan kami untuk bisa tertawa mengusir lara.

(Keterangan foto : Tohiro, suka sekali menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja. Ungkapan akan perlawanannya terhadap kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis. Terakhir dia ungkapkan secara verbal bahwa perlu ada Front Pembela Autis (FPAA), Foto ini diambil pada tanggal. 3 November 2007. Lihat : jarinya menunjukkan tanda "V" Victory/Peace-kemenangan melawan kekerasan dan hidup dalam damai.)


Para orangtua anak- penyandang autis, yang tergabung dalam :

Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia

Jl. Boulevard Blok O.I/16, Taman Cimanggu, Bogor 16710

Tel. : 0251 – 8336615, Fax. : 0251 – 8312687

Email : keluargaistimewa@yahoo.co.id

Website : www.ikatankeluargaistimewa.blogspot.com

Kontak person : Musphyanto Chalidaputra, Pembina, HP. 0816 812 892

Rabu, 09 April 2008

Ucapan Selamat

IKI mengucapkan selamat kepada ananda Raka Adhi Prakoso Wishnuputra (anggota IKI) atas terpilihnya menjadi juara kedua dalam Lomba menggambar di acara Open House TK/SD An-Nahl Kota Wisata-Cibubur.

Raka



Hasil Karya

Selasa, 08 April 2008

Buku "Lukisanku, Duniaku"


Sampul Depan


Dalam rangka ikut memberikan kepedulian di Bulan Peduli Autis, IKI mengadakan Pameran Lukisan anak-anak penyandang autis di Botani Square Bogor tanggal 5-6 April 2008, dan juga menguraikan isi dari lukisan tersebut dalam sebuah buku yang berjudul "Lukisanku, Duniaku, warnaku adalah jiwaku, goresanku adalah kata-kataku".


Sampul Belakang


Buku tersebut merupakan bentuk apresiasi, penghormatan, rasa sayang, rasa bangga kami terhadap karya anak-anak yang termasuk ke dalam kelompok anak penyandang autis. selain itu, buku ini juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah Yang Maha Kuasa atas segala kepercayaanNya untu menjaga, merawat, memperhatikan dan mendidik anak-anak penyandang autis.
Goresan anak-anak ini membuktikan bahwa anak-anak istimewa ini juga sama dengan anak-anak normal lainnya. Tuhan melengkapinya juga kekuatan-kekuatan jiwa, seperti perasaan, pikiran, akal sehingga merekapun mampu mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya dalam bentuk lukisan. apa yang terjadi di balik lukisan mereka sangat beragam dan menarik dikisahkan oleh orang-orang yang mencintainya.
Rekaman catatan kisah ini merupakan sumbangan dari anak-anak penyandang autis dan keluarga serta orang-orang sekeliling yang mencintainya kepada generasi kini dan di masa datang. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran keikhlasan bagi kita semua.

Jumat, 04 April 2008

Hari Peduli Autis

Mulai tanggal 2 April 2008 yang ditetapkan sebagai "world autism awareness day" oleh united nations (PBB), IKI turut mengucapkan selamat hari peduli autis. Dengan adanya hari peduli autis ini, semoga semakin banyak kalangan yang ikut peduli serta memberikan apresiasi kepada para penyandang Autistic Spectrum Disorder (ASD) dan juga semoga semua turut memberikan dukungan bagi mereka supaya tercapai kemandirian dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Senin, 28 Januari 2008

Wisata Musik Angklung

IKI mengadakan wisata musik angklung di Saung Udjo Bandung, dalam rangka rencana pelaksanaan terapi musik di IKI. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada :

  • Hari/Tanggal : Kamis, 7 Pebruari 2008
  • Waktu : 07.00 – 18.00 WIB
  • Tempat : Saung Angklung Udjo
    Jl. Padasuka No. 118 Bandung

Manfaat yang diharapkan melalui mengikuti Wisata Musik Angklung adalah:

1. Melatih pendengaran dengan membedakan nada angklung dan arah datangnya suara.

2. Membangkitkan minat terhadap musik angklung

3. Membangkitkan kepercayaan diri dan kebanggaan anak atas kemampuannya (self esteem)

4. Melatih suasana kompetensi dan menciptakan suasana gembira

5. Memperkenalkan tentang salah satu alat musik tradisional (angklung)

6. Menjadi ajang silaturrahmi di antara anggota IKI

Susunan Acara ”Wisata Musik Angklung”

10.30 – 11.00 : Belajar Musik Angklung

Anak Autis dan peserta diajarkan bagaimana cara memainkan alat musik angklung.

11.00 – 12.00 : Bermain Musik Angklung bersama

Setelah semua peserta terutama Anak Autis belajar bagaimana memainkan alat musik angklung, inilah
kesempatan untuk mempraktekan keterampilan musik tersebut dengan memainkan beberapa lagu pilihan
secara bersama-sama.

12.00 – 13.00 : I S H O M A



Selasa, 08 Januari 2008

Terapi Musik Untuk Anak Autis di Jakarta

IKI telah mengirimkan wakil dalam acara dialog interaktif dan workshop "Terapi Musik, Perspektif Sains dan Estetika" yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UKRIDA dan majalah INTISARI, yang dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2007 di Balai Betawi Hotel Santika Jakarta.

TERAPI MUSIK IMPROVISASI (TMI) UNTUK PENYANDANG SPEKTRUM AUTISM

Prinsip dasar TMI :

Kebebasan penuh kepada klien dan terapis untuk berimprovisasi tanpa terkekang dengan aturan-aturan musik konvensional

Sasaran TMI :

- Meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa
- Peningkatan kepekaan auditorik (mendengarkan), berkonsentrasi, mengimitasi, bersosialisasi
- q Menyediakan ruang bermain anak-anak dan berekspresi secara bebas

Dasar pelaksanaan terapi musik :

- Menyertakan elemen-elemen musik : Pitch, tempo, timbre dan dinamika

Langkah-langkah model TMI :

- Asesmen

- Rencana perlakuan

- Intervensi dan pencatatan perlakuan

q - Evaluasi dan Terminasi Perlakuan

Ragam improvisasi permainan musik :

- Bermain Alat Musik

- Mendengar Musik

q - Bernyanyi