Senin, 25 Agustus 2008

"....outbOund....



YKII mengadakan kegiatan outbound dengan tema "Autism in Independence Day" pada tanggal 24 Agustus 2008 di Restoran Jala-jala Rancamaya Bogor. Kegiatan ini diikuti 72 orang yaitu anak-anak, orangtua, relawan, terapis, guru pendamping dan para sahabat istimewa.





Senin, 18 Agustus 2008

..." OUTing"....

"YKII Therapist dan Sibling Outing"


YKII mengadakan kegiatan refreshing yang bertemakan "YKII Therapist and sibling outing" di Taman Nasional Ujung Kulon pada tanggal 15-17 Agustus 2008. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan apresiasi antara semua pihak yang selama ini telah membantu kegiatan YKII, peserta outing ini adalah orang tua, sibling, terapis, relawan, aid teacher dan wartawan dari Radar Bogor yang semuanya ada 25 orang.



Dalam outing ini juga disetujui dan ditandatangani ikrar pegiat YKII Yang berisi pernyataan :

Saya pegiat YKII sadar bahwa :

  1. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
  2. Anak adalah tunas, potensi dan generasi penerus, yang oleh karenanya ia perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial untuk menjadi manusia berakhlak mulia.
  3. Anak penyandang autisma dan spektrumnya adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan pervasif sehingga apa yang normal baginya tidak normal bagi orang lain dan apa yang normal bagi orang lain tidak normal baginya.
  4. Dengan ilmu pengetahuan, kesabaran, kasih sayang, kegigihan dan keikhlasan serta rakhmat Tuhan Yang Maha Esa, autisma dan spektrumnya dapat diatasi sehingga anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang, hidup mandiri serta berpartisipasi secara wajar dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Atas kesadaran tersebut saya berikrar untuk :

  1. Selalu memberikan perlindungan kepada anak penyandang autisma dan spektrumnya baik secara langsung atau tidak langsung, diminta atau tidak diminta, agar anak terhindar dari tindakan diskriminasi, eksploitasi, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiyayaan, ketidakadilan, dan tindakan salah lainnya oleh orang lain secara sengaja.
  2. Selalu senantiasa mendharma-bhaktikan pengetahuan dan ketrampilan saya dalam upaya mengalahkan autisma dan spektrumnya.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati saya.

Senin, 04 Agustus 2008

Front Pembela Anak Autis (FPAA)

“Kenapa sih, tidak FPAA saja ?” kata anak Tohiro (11 thn) tiba-tiba nyeletuk di tengah pembicaraan kami yang sedang menyusun kegiatan FBTA – Fasilitas Bersama Terapi Autis – milik yayasan yang kami kelola. “Apa itu FPAA?” tukas kami hampir serentak.” Front pembela anak autis !” jawabnya sambil berlalu tanpa ekspresi dan kembali dalam kesibukannya menggambar mobil tank dan orang yang mengacungkan senapan. Kami semua yang berada di ruangan itu, merasa geli dan tertawa kecut menghubungkan singkatan FPAA dengan singkatan yang mirip yang pernah hangat dalam pemberitaan TV dan koran. Suatu nalar yang spontan dari seorang anak penyandang autis.

Belum sampai satu bulan dari “protes” Tohiro tentang FBTA, belum hilang rasa geli kami, masih banyak spanduk – spanduk dan poster poster tentang Hari Anak terpampang di jalan – jalan raya, kami benar benar dibuat kecut oleh kejadian hari Jum’at tanggal 1 Agustus 2008, di sebuah mesjid di Kotamadya Bogor. Fian ( 9 thn, murid kelas 3, SD inklusi), seorang anak penyandang autis telah ditampar hanya karena ia tidak fokus (khusyuk) ketika shalat jum’at oleh seorang jama’ah (dewasa) yang merasa terganggu.

Hati kami tersayat, air mata membasahi papan ketik menceritakan kisah duka ini, nyali menjadi ciut untuk menunaikan amanah Allah SWT membesarkan anak yang berkebutuhan khusus di negeri tercinta yang penuh kekerasan ini. Perlukah kami memiliki sebuah tank dan senapan teracung untuk meraih hak kami hidup berdampingan ?

Fian tinggal dekat mesjid itu, dan sudah merupakan kebiasaannya ikut shalat berjamaah. Tentang ketaatan pada waktu, jangan tanya Fian dan anak penyandang autis pada umumnya. Mereka sangat taat jadwal bahkan aktifitas rutinnya telah diatur oleh prosedur tetap (protap) yang tertanam dalam otaknya. Ketaatan mereka dapat mengalahkan ketaatan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun. Lihat saja Tohiro atau Raafi (10 tahun) mereka segera mengambil wudlu dan mengerjakan shalat apabila jam tubuhnya membunyikan tanda yang 5 waktu tiba. Protapnya Tohiro mengatakan : “baca Al Qur’an setelah salam, buat tanda pada ayat terakhir yang dibaca, untuk dilanjutkan setelah shalat berikutnya “ Protap ini membuatnya khatam Al Qur’an pada usia yang sangat muda. Mereka akan merasa tidak nyaman apabila rutinitas itu berubah, bahkan dapat menjadi tantrum (marah). Protapnya Raafi lain lagi, ia harus shalat di shaf pertama dan datang lebih awal untuk mendapatkannya. Sering ia disuruh pindah kebelakang karena dianggap tidak pantas, ia kemudian menyelinap dengan berbagai cara untuk mengambil kembali haknya. Kelebihan – kelebihan itu hanya diketahui dan dilihat oleh keluarga dekatnya. Tetapi masyarakat – maaf`- bahkan orang dewasa yang berpendidikan sekalipun hanya melihat dan mengetahui kekurangan – kekurangan anak penyandang autis. Ini yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa penamparan tersebut.

Anak penyandang autis (antara lain) karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya selalu ingin bergerak, populer dengan istilah hiperaktif atau hiperkinesis atau puluhan istilah ilmiah lainnya,. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirimkan perintah – perintah ke tubuhnya untuk bergerak, “ bergerak !` bergerak !, rasakan sensasi dari sebuah gerakan ! “. Jika tidak tubuhnya yang bergerak/lingkungannya diam maka lingkungannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.

Masyarakat disekitar mesjid dan tempat tinggalnya telah mengenal Fian sebagai anak berkebutuhan khusus. Semula tidak ada masalah tentang kehadirannya di mesjid di hari Jum’at itu. Karena dekat dengan rumahnya ia shalat tanpa pendamping. Seorang bapak yang menjadi tamu salah seorang warga dan tidak mengenal Fian kemudian merasa terganggu oleh gerak tubuhnya, lalu ditindak lanjuti dengan penamparan. Meskipun telah ditegur oleh jamaah lain, si penampar bersikeras untuk menjadi penegak ketertiban. Seberapa kuatkah seorang anak berusia 9 tahun menahan tamparan orang dewasa ?. Seberapa besar dampak psikologis sebuah tamparan dibanding rasa sakitnya ?. Patutkah seorang anak mendapat kekerasan ? Di rumah ibadah pula ? Dan sederet pertanyaan lagi yang tidak dimuat pada lembaran kertas ini.

Tidakkah kita mau belajar dari Nabi Muhammad SAW, junjungan kita ? Menurut Amini (2003) meriwayatkan kisah : pada suatu hari, ketika Nabi sedang melakukan shalat berjama’ah, Husain yang masih kecil berada di dekat beliau. Bila Nabi sujud, Husain datang dan naik di punggung beliau lalu menggerak-gerakkan kakinya sambil mengatakan , “Hus,hus”. Jika Nabi hendak mengangkat kepala (bangkit dari sujud), beliau mengambilnya dan meletakkannya di sampingnya. Bila Nabi sujud lagi, Husain naik lagi ke punggung beliau dan mengatakan, “Hus, hus”. Ia terus melakukan itu sampai Nabi SAW selesai shalat. Lalu seorang Yahudi berkata kepadanya, “Wahai Muhammad kalian melakukan sesuatu kepada anak-anak yang kami tidak melakukannya”. Nabi pun menjawab : “ Jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kalian pasti menyayangi anak-anak.” “ Kalau begitu, aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” kata orang Yahudi itu. Ia masuk Islam demi melihat keramahan Rasullullah SAW (dalam Bihar Al-Anwar, XLII, hal.296).

Peristiwa penamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Anda mungkin hanya melihat puncaknya saja yang tersembul dari permukaan. Kami para orang-tua dan anak penyandang autis memikul seluruh berat gunung es itu. Anak-anak kami yang dijahili (bullying) di sekolah, para orangtua yang protes atas program- inklusi, mata yang melotot dan bibir yang mencibir ketika kami bawa anak kami ke dunia luar untuk memperkenalkannya pada kehidupan dan benda-benda disekitarnya, perlakuan yang diskriminatif, pergunjingan dibelakang kami, maaf sekali lagi lembaran kertas ini tidak cukup untuk memuatnya.

Kami dan anak kami yang berkebutuhan khusus tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kami. Kami hanya ingin merasakan hak kami untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan. Tohiro boleh menggantung gambar tank dan orang bersenapan hanya untuk hiasan dinding. Idenya yang cemerlang tentang Front Pembela Anak Autis cukup sebatas wacana saja dan jadi bahan kami untuk bisa tertawa mengusir lara.

(Keterangan foto : Tohiro, suka sekali menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja. Ungkapan akan perlawanannya terhadap kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis. Terakhir dia ungkapkan secara verbal bahwa perlu ada Front Pembela Autis (FPAA), Foto ini diambil pada tanggal. 3 November 2007. Lihat : jarinya menunjukkan tanda "V" Victory/Peace-kemenangan melawan kekerasan dan hidup dalam damai.)


Para orangtua anak- penyandang autis, yang tergabung dalam :

Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia

Jl. Boulevard Blok O.I/16, Taman Cimanggu, Bogor 16710

Tel. : 0251 – 8336615, Fax. : 0251 – 8312687

Email : keluargaistimewa@yahoo.co.id

Website : www.ikatankeluargaistimewa.blogspot.com

Kontak person : Musphyanto Chalidaputra, Pembina, HP. 0816 812 892