
Ikatan Keluarga Istimewa – IKI ( Parent Support Group on Autism ) pada tanggal 20-24 Agustus 2007 akan mengadakan seminar dan workshop terapi lumba-lumba untuk anak autis bertempat di Melka Excellcior Resort, Singaraja, Bali.
Kegiatan seminar ini akan dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 20 Agustus 2007 dengan nara sumber : Dr. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia yang akan menyampaikan keynote speaker pertama tentang “current status anak penyandang autis di Indonesia, dan penanganannya”, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Prof. Dr Indroyono Soesilo,MSc,Apu akan memberikan kata sambutan, sedangkan Kepala Litbang Departemen Kelautan dan Perikanan tentang peranan penting teknologi kelautan terhadap penelitian mamalia laut untuk terapi anak autis, sebagai keynote speaker kedua.
Kegiatan seminar ini akan dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 20 Agustus 2007 dengan nara sumber : Dr. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia yang akan menyampaikan keynote speaker pertama tentang “current status anak penyandang autis di Indonesia, dan penanganannya”, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Prof. Dr Indroyono Soesilo,MSc,Apu akan memberikan kata sambutan, sedangkan Kepala Litbang Departemen Kelautan dan Perikanan tentang peranan penting teknologi kelautan terhadap penelitian mamalia laut untuk terapi anak autis, sebagai keynote speaker kedua.
Pembicara Tamu dari Jepang Mrs Tzusuki Keiko dan Mrs Carla Henco, B.Spec.Ed. dari Australia tentang perkembangan terapi lumba-lumba di Jepang dan Australia. Ir. Agus Cahyadi, MS, peneliti lumba-lumba Departemen Kelautan dan Perikanan, tentang penelitian awal terapi lumba-lumba di Indonesia dan Dr Muniyati Ismail dari Pusat Terapi Yayasan Bina Autis Mandiri, Palembang, tentang perjuangan membangun tempat pendidikan bagi anak autis.
Pada 4 hari berikutnya (tangal 21-24 Agustus 2007), secara berturut-turut akan dilakukan workshop yang merupakan kegiatan terapi khusus kepada 12 anak penyandang autis terpilih. Terapi ini akan dilakukan secara khusus satu persatu dengan didampingi terapis dan seorang pawang lumba-lumba, serta akan dilakukan pengamatan khusus juga terhadap gelombang bioakustik yang dikeluarkan oleh ikan lumba-lumba ketika berinteraksi dengan anak-anak . Terapi perilaku yang saat ini banyak dikenal antara lain adalah dengan metoda ABA (Applied Behavioral Approach), Son Rise, Terapi berkuda, dan Terapi Dolphin.
Terapi dolphin (lumba-lumba) di tanah air yang ada saat ini adalah di Taman Ancol (Jakarta) dan Singaraja, Taman Lovina (Bali), tetapi bagaimana dolphin bisa menjadi alternatif cara terapi untuk penanganan anak penyandang autis belum banyak dikenal secara luas.
Terapi autisma dengan bantuan dolphin (Dolphin Assisted Teraphy, disingkat DAT) dimulai tahun 1973 oleh Dr. Hank Truby, ahli linguistik dan biofonetik bersama Dr. Lilly yang selama 17 tahun telah bersama-sama mengajari dolphin mengerti bahasa inggris, untuk pertama kalinya melibatkan dua anak autis di Miami Seaquarium. Miami, Florida, USA. Hasilnya ternyata dapat memperpanjang rentang perhatian mereka yang semula hanya sekitar 5 menit menjadi 90 menit, bahkan keduanya dapat bekerjasama dalam permainan dengan mamalia laut tersebut.
Ahli Indonesia yang telah mengawali penelitian tentang bioakustik dolphin sebagai sarana terapi anak autis dan spektrumnya adalah Agus Cahyadi, seorang peneliti di Departemen Perikanan dan Kelautan. Sebelumnya beliau telah meneliti bioakustik berbagai jenis ikan. Dari penelitiannya itu Pak Agus kemudian menciptakan dan mendapat hak paten alat pemanggil ikan, suatu alat yang sangat bermanfaat sekali bagi para nelayan kita untuk meningkatkan hasil tangkapannya.
Sejauh ini, sebagian besar di antara kita telah mengenal dolphin (lumba-lumba) sebagai hewan yang lucu, suka bermain, sering ditampilkan pada acara-acara televisi dan film, pertunjukkan di akuarium samudra. Sepanjang sejarah, banyak diceritakan bagaimana dolphin menolong manusia yang tenggelam atau hanyut di laut. Bagaimana terapi lumba-lumba ini mendapat manfaat bagi perkembanganan anak penyandang autis di Indonesia belum diteliti secara mendalam dan juga belum mendapatkan sosialisasi secara meluas kepada masyarakat Indonesia.
Tergerak oleh kenyataan di atas, Ikatan Keluarga Istimewa disingkat IKI adalah suatu perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri atas mereka yang menaruh minat dalam pembinaan dan pendidikan warga istimewa (anak penyandang autis dan spektrumnya), yang berkedudukan di Bogor, Propinsi Jawa Barat akan bekerja sama dengan Melka Excellcior Resort, Singaraja dan Departemen Kelautan dan Perikanan telah bersepakat akan mengadakan “Seminar dan Workshop Terapi Lumba-lumba untuk Anak Autis di Singaraja, Bali”. Seminar ini dapat diikuti oleh para praktisi dan pemerhati terapi autis, para orang tua dan mahasiwa dengan biaya Rp 100.000,-
Pada 4 hari berikutnya (tangal 21-24 Agustus 2007), secara berturut-turut akan dilakukan workshop yang merupakan kegiatan terapi khusus kepada 12 anak penyandang autis terpilih. Terapi ini akan dilakukan secara khusus satu persatu dengan didampingi terapis dan seorang pawang lumba-lumba, serta akan dilakukan pengamatan khusus juga terhadap gelombang bioakustik yang dikeluarkan oleh ikan lumba-lumba ketika berinteraksi dengan anak-anak . Terapi perilaku yang saat ini banyak dikenal antara lain adalah dengan metoda ABA (Applied Behavioral Approach), Son Rise, Terapi berkuda, dan Terapi Dolphin.
Terapi dolphin (lumba-lumba) di tanah air yang ada saat ini adalah di Taman Ancol (Jakarta) dan Singaraja, Taman Lovina (Bali), tetapi bagaimana dolphin bisa menjadi alternatif cara terapi untuk penanganan anak penyandang autis belum banyak dikenal secara luas.
Terapi autisma dengan bantuan dolphin (Dolphin Assisted Teraphy, disingkat DAT) dimulai tahun 1973 oleh Dr. Hank Truby, ahli linguistik dan biofonetik bersama Dr. Lilly yang selama 17 tahun telah bersama-sama mengajari dolphin mengerti bahasa inggris, untuk pertama kalinya melibatkan dua anak autis di Miami Seaquarium. Miami, Florida, USA. Hasilnya ternyata dapat memperpanjang rentang perhatian mereka yang semula hanya sekitar 5 menit menjadi 90 menit, bahkan keduanya dapat bekerjasama dalam permainan dengan mamalia laut tersebut.
Ahli Indonesia yang telah mengawali penelitian tentang bioakustik dolphin sebagai sarana terapi anak autis dan spektrumnya adalah Agus Cahyadi, seorang peneliti di Departemen Perikanan dan Kelautan. Sebelumnya beliau telah meneliti bioakustik berbagai jenis ikan. Dari penelitiannya itu Pak Agus kemudian menciptakan dan mendapat hak paten alat pemanggil ikan, suatu alat yang sangat bermanfaat sekali bagi para nelayan kita untuk meningkatkan hasil tangkapannya.
Sejauh ini, sebagian besar di antara kita telah mengenal dolphin (lumba-lumba) sebagai hewan yang lucu, suka bermain, sering ditampilkan pada acara-acara televisi dan film, pertunjukkan di akuarium samudra. Sepanjang sejarah, banyak diceritakan bagaimana dolphin menolong manusia yang tenggelam atau hanyut di laut. Bagaimana terapi lumba-lumba ini mendapat manfaat bagi perkembanganan anak penyandang autis di Indonesia belum diteliti secara mendalam dan juga belum mendapatkan sosialisasi secara meluas kepada masyarakat Indonesia.
Tergerak oleh kenyataan di atas, Ikatan Keluarga Istimewa disingkat IKI adalah suatu perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri atas mereka yang menaruh minat dalam pembinaan dan pendidikan warga istimewa (anak penyandang autis dan spektrumnya), yang berkedudukan di Bogor, Propinsi Jawa Barat akan bekerja sama dengan Melka Excellcior Resort, Singaraja dan Departemen Kelautan dan Perikanan telah bersepakat akan mengadakan “Seminar dan Workshop Terapi Lumba-lumba untuk Anak Autis di Singaraja, Bali”. Seminar ini dapat diikuti oleh para praktisi dan pemerhati terapi autis, para orang tua dan mahasiwa dengan biaya Rp 100.000,-
Donasi untuk kegiatan ini dapat transfer ke Rekening BCA Cab Gatot Subroto Jakarta A/C No 1451085030 . Pendaftaran dan Informasi lebih lanjut dapat menghubungi IKI, Tel. 0251-336615, Kontak Person : Sdri. Ayun, Fax. 0251- 380402 atau email : keluargaistimewa@yahoo.co.id

