Minggu, 08 Juli 2007

Seminar & Workshop Terapi Lumba-lumba untuk Anak Autis


Ikatan Keluarga Istimewa – IKI ( Parent Support Group on Autism ) pada tanggal 20-24 Agustus 2007 akan mengadakan seminar dan workshop terapi lumba-lumba untuk anak autis bertempat di Melka Excellcior Resort, Singaraja, Bali.
Kegiatan seminar ini akan dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 20 Agustus 2007 dengan nara sumber : Dr. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia yang akan menyampaikan keynote speaker pertama tentang “current status anak penyandang autis di Indonesia, dan penanganannya”, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Prof. Dr Indroyono Soesilo,MSc,Apu akan memberikan kata sambutan, sedangkan Kepala Litbang Departemen Kelautan dan Perikanan tentang peranan penting teknologi kelautan terhadap penelitian mamalia laut untuk terapi anak autis, sebagai keynote speaker kedua.
Pembicara Tamu dari Jepang Mrs Tzusuki Keiko dan Mrs Carla Henco, B.Spec.Ed. dari Australia tentang perkembangan terapi lumba-lumba di Jepang dan Australia. Ir. Agus Cahyadi, MS, peneliti lumba-lumba Departemen Kelautan dan Perikanan, tentang penelitian awal terapi lumba-lumba di Indonesia dan Dr Muniyati Ismail dari Pusat Terapi Yayasan Bina Autis Mandiri, Palembang, tentang perjuangan membangun tempat pendidikan bagi anak autis.
Pada 4 hari berikutnya (tangal 21-24 Agustus 2007), secara berturut-turut akan dilakukan workshop yang merupakan kegiatan terapi khusus kepada 12 anak penyandang autis terpilih. Terapi ini akan dilakukan secara khusus satu persatu dengan didampingi terapis dan seorang pawang lumba-lumba, serta akan dilakukan pengamatan khusus juga terhadap gelombang bioakustik yang dikeluarkan oleh ikan lumba-lumba ketika berinteraksi dengan anak-anak . Terapi perilaku yang saat ini banyak dikenal antara lain adalah dengan metoda ABA (Applied Behavioral Approach), Son Rise, Terapi berkuda, dan Terapi Dolphin.
Terapi dolphin (lumba-lumba) di tanah air yang ada saat ini adalah di Taman Ancol (Jakarta) dan Singaraja, Taman Lovina (Bali), tetapi bagaimana dolphin bisa menjadi alternatif cara terapi untuk penanganan anak penyandang autis belum banyak dikenal secara luas.
Terapi autisma dengan bantuan dolphin (Dolphin Assisted Teraphy, disingkat DAT) dimulai tahun 1973 oleh Dr. Hank Truby, ahli linguistik dan biofonetik bersama Dr. Lilly yang selama 17 tahun telah bersama-sama mengajari dolphin mengerti bahasa inggris, untuk pertama kalinya melibatkan dua anak autis di Miami Seaquarium. Miami, Florida, USA. Hasilnya ternyata dapat memperpanjang rentang perhatian mereka yang semula hanya sekitar 5 menit menjadi 90 menit, bahkan keduanya dapat bekerjasama dalam permainan dengan mamalia laut tersebut.
Ahli Indonesia yang telah mengawali penelitian tentang bioakustik dolphin sebagai sarana terapi anak autis dan spektrumnya adalah Agus Cahyadi, seorang peneliti di Departemen Perikanan dan Kelautan. Sebelumnya beliau telah meneliti bioakustik berbagai jenis ikan. Dari penelitiannya itu Pak Agus kemudian menciptakan dan mendapat hak paten alat pemanggil ikan, suatu alat yang sangat bermanfaat sekali bagi para nelayan kita untuk meningkatkan hasil tangkapannya.
Sejauh ini, sebagian besar di antara kita telah mengenal dolphin (lumba-lumba) sebagai hewan yang lucu, suka bermain, sering ditampilkan pada acara-acara televisi dan film, pertunjukkan di akuarium samudra. Sepanjang sejarah, banyak diceritakan bagaimana dolphin menolong manusia yang tenggelam atau hanyut di laut. Bagaimana terapi lumba-lumba ini mendapat manfaat bagi perkembanganan anak penyandang autis di Indonesia belum diteliti secara mendalam dan juga belum mendapatkan sosialisasi secara meluas kepada masyarakat Indonesia.
Tergerak oleh kenyataan di atas, Ikatan Keluarga Istimewa disingkat IKI adalah suatu perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri atas mereka yang menaruh minat dalam pembinaan dan pendidikan warga istimewa (anak penyandang autis dan spektrumnya), yang berkedudukan di Bogor, Propinsi Jawa Barat akan bekerja sama dengan Melka Excellcior Resort, Singaraja dan Departemen Kelautan dan Perikanan telah bersepakat akan mengadakan “Seminar dan Workshop Terapi Lumba-lumba untuk Anak Autis di Singaraja, Bali”. Seminar ini dapat diikuti oleh para praktisi dan pemerhati terapi autis, para orang tua dan mahasiwa dengan biaya Rp 100.000,-
Donasi untuk kegiatan ini dapat transfer ke Rekening BCA Cab Gatot Subroto Jakarta A/C No 1451085030 . Pendaftaran dan Informasi lebih lanjut dapat menghubungi IKI, Tel. 0251-336615, Kontak Person : Sdri. Ayun, Fax. 0251- 380402 atau email : keluargaistimewa@yahoo.co.id

Jumat, 22 Juni 2007

Pelatihan Guru Pendamping


Untuk menghasilkan tenaga yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang cukup mendampingi anak penderita autis di sekolah maupun sehari-hari di rumah, IKI menyelenggarakan Pelatihan Guru Pendamping ( Shadow ) selama 3 hari. Teori diadakan di Sekretariat IKI pada tanggal 18 Maret 2007, dilanjutkan dengan praktek di Sekolah Alam Bogor selama 2 hari pada tanggal 20 dan 22 Maret 2007.

Materi yang diajarkan antara lain : Tumbuh Kembang Anak, mengenal autis dan penanganannya diberikan oleh Ibu Hapsiati, Psi, Mengenal IKI oleh Dr. Drh. Upik Kesumawati Hadi, MS - Ketua IKI dan Motivasi bekerja sebagai Guru Pendamping oleh Musphyanto C.

Praktek dibimbing oleh guru-guru Sekolah Alam yang sudah berpengalaman. Setiap peserta mendapat satu anak secara bergantian pada berbagai sesi kegiatan. Sehingga setiap peserta minimal mendampingi 10 anak yang berbeda pada 2 hari praktek tersebut.

Pelatihan ini diikuti oleh 19 peserta yang terdiri dari : Guru TK /SD, anggota keluarga anak penderita autis dan pemerhati yang ingin berkarya sebagai relawan guru pendamping.

Dalam rencana jangka panjangnya IKI bermaksud mencetak lebih banyak lagi Guru Pendamping ( shadow) untuk membantu anak-anak yang belajar disekolah inklusi, di rumah dan tenaga profesional. (emce)

Peduli Autis di Botany Square


"Gong"nya rangkaian Aksi Peduli Autis yang diselenggarakan IKI dilakukan di Botany Square, Baranangsiang. Bogor pada tanggal 29 April 2007, yang jatuh di hari Minggu.

Selain membagikan booklet Peduli Autis, group musik yang anggotanya terdiri dari pemusik jalanan dan saudara kandung anak autis juga tampil lebih mempesona. Apalagi pengelola mall yang megah dan terbaru di Bogor itu memberikan tempat tepat di pintu masuk utama di depan Starbuck Coffee yang bergengsi.

Pengurus IKI, anggota dan Sahabat Istimewa, semua tampil berseragam polo shirt dengan logo daun Peduli Autis.

" Ya..!!! kita harus think big meskipun mulai dengan langkah yang kecil" kata Pak Muladno - yang datang paling awal dan pulang paling akhir -bersemangat melihat besarnya sambutan dan dukungan masyarakat. (emce)

Sumbangan Buku Seputar Autisme


IKI telah menerima sumbangan buku Seputar Autisme, dari penulisnya Ibu Leny Marijani, BSc sebanyak 200 exemplar. Buku yang disampaikan melalui Ibu Adjeng Sukesmi Pradipto - anggota IKI dan milist Putera Kembara -membuat diskusi dan tanya jawab seputar autisme yang pernah dimuat di milist Putera Kembara.

Oleh IKI buku tersebut digunakan sebagai paket keanggota baru atau diberikan kepada instansi dan organisasi yang bekerjasama dengan IKI, sehingga sangat bermanfaat sekali sebagai bahan informasi.
Untuk pertama kali buku tersebut dibagikan kepada anggota sewaktu acara kumpul-kumpul di Kampus IPB Dramaga, tanggal 24 Juli 2005 yang lalu.

Terima kasih Bu Leny, buku tersebut sangat berguna sekali bagi anggota baru kami dan partner yang memerlukan lebih banyak informasi. (emce)

Stand IKI di Valentine Day


IKI, membuka stand pada Bazaar yang diselenggarakan di Hotel Salak, Bogor pada tanggal 13 Februari 2007. Stand ini dimaksudkan untuk sosialisasi IKI kepada masyarakat Bogor agar diketahui keberadaannya.

Stand yang mempublikasikan Misi dan Visi IKI serta kegiatan yang sudah berlangsung ini, banyak disinggahi oleh pengunjung pameran. IKI juga membagikan selebaran Tak Kenal Maka Tak Sayang, yang menjelaskan hal tersebut. Ibu Castiwi, terapis nampak didampingi oleh Musphyanto C. salah seorang pengurus yang bertugas bergantian jaga di stand itu. (emce)

Kamis, 21 Juni 2007

Fasilitas Bersama


Sehubungan dengan rencana jangka panjangnya IKI telah meresmikan gedung Fasilitas bersama Terapi Autis, pada tanggal 25 Februari 2007 Hari minggu jam 8.00-12.00, diawali dengan senam bersama, setelah itu acara sharing yang dipandu oleh Psikolog Autis, dan anak-anak bermain bersama terapis dan pendamping.

Fasilitas tersebut efektif dapat digunakan oleh semua anggota IKI mulai tanggal 1 Maret 2007. Buka setiap hari mulai jam 09:00 - 17:00, kecuali Jum'at dan hari libur nasional. FBTA ini adalah realisasi dari misi IKI ( Anggaran Dasar, Misi, No. 2 : Menjamin terpenuhinya kebutuhan pembinaan yang layak bagi warga istimewa )

Aksi Peduli di Sta Bogor


Aksi peduli autis terus digelar oleh IKI, dengan menurunkan group musik gabungan antara saudara kandung anak autis (sibling) dengan pemusik jalanan. Kali ini dilakukan di stasiun kereta rel listrik, Bogor pada tanggal 24 April 2007. Seperti hal Aksi peduli yang pertama, di Sta KRL ini juga dibagikan booklet tentang autis dan meja konsultasi.

Aksi Peduli di Taman Kencana

Ikatan Keluarga Istimewa (IKI) melakukan Aksi Peduli Austis di bundaran Taman Kencana dan Lapangan Sempor, Bogor pada hari minggu, tanggal 17 April 2007 Dimulai pada 07:00 s/d 10:00. Aksi tersebut melibatkan para orang tua, terapis, guru pendamping, pemerhati dan relawan yang tergabung dalam IKI. Mereka membagi-bagikan brosur yang memuat penjelasan , tanda-tanda dan perilaku anak penyandang autis kepada masyarakat Bogor yang sedang berolah raga pagi di lokasi tersebut. Aksi turun ke jalan ini juga dimeriahkan oleh pemusik jalanan yang menghibur dengan lagu-lagu country. Pada saat yang sama IKI juga membuka tenda konsultasi dan tanya-jawab seputar autisma bagi masyarakat Bogor yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sindroma tersebut serta membuka pendaftaran bagi masyarakat Bogor yang ingin bergabung menjadi anggota atau relawan (Sahabat Istimewa IKI).

Sahabat Istimewa IKI

Sahabat Istimewa IKI, adalah perseorangan, organisasi, lembaga pendidikan, instansi pemerintah atau swasta / perusahaan yang secara suka rela bersedia menerima, mengabaikan keganjilan-keganjilan, membangun rasa percaya diri, memberi semangat, memberi nasehat, mengontrol dan melindungi serta bermurah hati ke pada anak autis / autistik.

Apakah anak autis itu?

Anak penyandang autis atau anak autis(tik) adalah anak yang memerlukan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhannya. Mengapa demikian? Karena anak-anak ini mempunyai kegagalan yang jelas dalam berhubungan dengan orang lain, terhambat dalam berbahasa dan mempunyai keterbatasan dalam pola perilakunya. Keadaan ini disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan sel-sel otak yang sangat kompleks. Anak-anak ini masing-masing memiliki sekumpulan ciri-ciri yang unik serta kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Bila tahun 1990-an jumlah anak penyandang autisme adalah 10-20 per 10.000 anak (Baron-Cohen 1993), maka tahun 2000-an diperkirakan ada satu per 150 anak penyandang autisme di Amerika Serikat (CDC 2001). Melihat kecenderungan prevalensi yang meningkat terus, bukan tidak mungkin kalau saat ini penyandang autisme sudah ada di setiap penjuru tanah air tercinta. Yang menyedihkan adalah kurangnya tenaga ahli yang paham mengenai autisme dan tidak tersebarnya pengetahuan mengenai penanganan anak penyandang autisme, sehingga selain di kota-kota besar penanganan masih sangat minim, bahkan seringkali salah diagnosa dan salah terapi.

Adapun karakteristik dari anak-anak autisme adalah:
Gangguan dalam membentuk hubungan sosial.
- Cenderung menyendiri dan tidak berinisiatif untuk berhubungan dengan orang lain atau teman sebaya
- Kesulitan dalam mengekspresikan emosi dan memahami perasaan orang lain
- Kurang dapat bereaksi secara tepat terhadap perasaan dan emosi orang lain
- Memperlakukan orang lain seperti obyek, hanya berinteraksi bila membutuhkan bantuan
- Tidak mampu membentuk hubungan pertemanana dan berinteraksi sosial sesuai dengan usianya
- Minat terbatas dan tidak dapat bermain secara akurat
- Keterbatasan dalam keterampilan sosial
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
- Keterlambatan atau kegagalan dalam perkembangan bahasa, tidak mampu memahami bahasa isyarat
- Kegagalan dalam merespon komunikasi orang lain, misalnya tidak bereaksi ketika dipanggil
- Penggunaan bahasa yang repetitif dan stereotipi
- Kebingungan dalam menggunakan kata ganti diri, misalnya saya menjadi kamu dan sebaliknya.

Pola-pola perilaku yang unik
- Gerakan tubuh berulang-ulang yang mengganggu proses pelaksanaan tugas, seperti mengepakkan tangan, menjentikkan jari, rocking, loncat-loncat
- Preokupasi pada bagian-bagian dari obyek atau keterikatan pada obyek tertentu
- Tidak menyukai perubahan
- Memaksakan untuk mengikuti rutinitas secara detil
- Minat yang sangat sempit.

Selain ketiga ciri utama tersebut, anak-anak autisme dapat memiliki beberapa ciri lain seperti:
a. Respon terhadap rangsang sensoris yang abnormal
b. Perkembangan yang terhambat dan tidak seimbang diantara berbagai aspek
c. Tingkah laku agresif atau menyakiti diri sendiri
d. Gangguan dalam pola tidur, kebiasaan makan dan kemampuan bina diri
e. Kesulitan dalam diskriminasi dan generalisasi.

Sampai saat ini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan autisma ini. Namun dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran maka dapat dideteksi bahwa terdapat kelainan neurobiologis pada susunan syaraf pusat yang berupa pertumbuhan sel otak yang tisak sempurna pada beberapa bagian otak. Gangguan ini terjadi selama kehamilan yang bisa disebabkan oleh infeksi virus CMV, Rubela, Herpes, Toxoplasma dan jamur (Candida). Selain itu faktor genetik juga memegang peranan penting dalam munculnya gejala-gejala autisma ini. Penelitian yang terakhir juga menemukan adanya hubungan antara gangguan pencernaan dengan autisma. Sebagian besar penyandang autisme ternyata tidak dapat mencernakan protein dari susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) secara sempurna. Akibatnya terjadi gangguan pada fungsi otak yang akan memperburuk fungsi kognitif , perilaku dan perhatian (Budhiman 2000).

Salah satu bentuk pelayanan untuk anak autistik adalah melalui pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak. Program pengajaran terstruktur dinyatakan sebagai cara untuk memperoleh kemajuan yang besar. Hal ini terjadi karena guru secara aktif mengambil inisiatif untuk berinteraksi dan memberi petunjuk, juga guru menjalankan tugasnya dari bagian terkecil sehingga anak mudah mengikuti tahap-tahap pembelajaran sesuai tujuan yang diharapkan. Anak-anak juga dapat memperkirakan apa yang akan dicapainya. Perubahan mendadak seringkali membuat anak panik dan tantrum. Tetapi sedapat mungkin juga mengajarkan hal-hal yang spontan dan fleksibel terutama dalam kemampuan sosialnya (Baron-Cohen 1993).

Acara pergi keluar melihat apa yang ada di sekitar merupakan salah satu bentuk yang perlu diperkenalkan kepada anak-anak autis agar secara luwes mampu menghadapi suasana yang berbeda dari keseharian. Mari kita bantu anak-anak ini untuk maju menggapai masa depannya. (Upik Kesumawati Hadi, orang tua Tohiro Desnanda)

Visi dan Misi IKI

I. VISI
Tercapainya kemandirian warga istimewa dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat

II. MISI
1. Memberikan pelayanan, perhatian, pengawasan, dan perlindungan kepada warga istimewa dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa
2. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pendidikan (pembinaan) yang layak bagi warga istimewa
3. Menjamin diperolehnya kesamaan hak dan kewajiban (kesempatan) warga istimewa dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa

III. MAKSUD DAN TUJUAN
Membangun rasa solidaritas dan rasa kebersamaan yang tinggi dan berkesinambungan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi masing-masing warga istimewa sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat mandiri dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Lambang IKI dan artinya


LAMBANG
Lambang Ikatan keluarga Istimewa berupa : Silhuet seorang anak yang sedang mengangkat kedua tangannya berdiri diatas 3 pasang tangan yang saling menopang dan melindungi, dilingkari penuh dengan tulisan Ikatan Keluarga Istimewa (IKI)


Warna Lambang :
Warna hitam pada Gambar Anak, pasangan tangan yang kecil dan tulisan melingkar Ikatan Keluarga Istimewa. Warna Abu-abu 80% pada tangan ukuran sedang yang ditengan. Warna abu-abu 60% pada pasangan tangan ukuran besar pada sisi paling luar. Gradasi warna hitam tersebut melambangkan keprihatinan, kebulatan tekad untuk berjuang dan keteguhan iman. Lambang tersebut tercetak pada warna dasar putih yang melambangkan kesucian dan tawakkal

Arti Lambang :
Anak yang sedang mengangkat kedua tangannya : Melambangkan kebangkitan kemampuan dan kemandirian anak istimewa.
Tiga pasang tangan : melambangkankan tiga komponen utama yang mendukung kebangkitan anak istimewa tersebut,yaitu :
Pasangan tangan berwarna hitam : adalah kedua orang tua yang mendukung dan melindungi anak.
Pasangan tangan berwarna abu-abu tua : adalah lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, sekolah yang mendukung dan memberikan suasana yang kondusif bagi perkembangan dan perdidikan anak istimewa.
Pasangan tangan berwarna abu-abu muda : adalah Negara kesatuan Republik Indonesia yang melindungi dan menjamin hak setiap warga negaranya.
Tulisan Ikatan keluarga Isimewa dalam bentuk lingkaran penuh : melambangkan kebersamaan dan kesetaraan setiap anggota dalam menjalankan visi dan misi organisasi, tanpa memandang gender, usia, status dan keyakinan agama.
Tiga pasang tangan dan anak yang sedang mengangkat tangannya secara kesatuan merupakan bunga yang sedang mekar : melambangkankan kebahagiaan yang dicapai bagi semua pihak apabila ketiga komponen utama dimaksud (orang tua, masyarakat lingkungan dan Negara ) bersatu, bahu membahu mendukung dan melindungi anak istimewa. Dan warga istimewa dalam lambang tersebut seperti tepung sari bunga yang merupakan generasi penerus keluarga, dan bangsa Indonesia.