Selasa, 25 Oktober 2011

Apakah Anak Autis Itu ?

Apakah Anak Autis Itu?
Anak penyandang autis atau anak autis(tik) adalah anak yang memerlukan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhannya. Mengapa demikian? Karena anak-anak ini mempunyai kegagalan yang jelas dalam berhubungan dengan orang lain, terhambat dalam berbahasa dan mempunyai keterbatasan dalam pola perilakunya. Keadaan ini disebabkan oleh adanya gangguan perkembangan sel-sel otak yang sangat kompleks. Anak-anak ini masing-masing memiliki sekumpulan ciri-ciri yang unik serta kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Bila tahun 1990-an jumlah anak penyandang autisme adalah 10-20 per 10.000 anak (Baron-Cohen 1993), maka tahun 2000-an diperkirakan ada satu per 150 anak penyandang autisme di Amerika Serikat (CDC 2001). Melihat kecenderungan prevalensi yang meningkat terus, bukan tidak mungkin kalau saat ini penyandang autisme sudah ada di setiap penjuru tanah air tercinta. Yang menyedihkan adalah kurangnya tenaga ahli yang paham mengenai autisme dan tidak tersebarnya pengetahuan mengenai penanganan anak penyandang autisme, sehingga selain di kota-kota besar penanganan masih sangat minim, bahkan seringkali salah diagnosa dan salah terapi.

Adapun karakteristik dari anak-anak autisme adalah:
Gangguan dalam membentuk hubungan sosial.
- Cenderung menyendiri dan tidak berinisiatif untuk berhubungan dengan orang lain atau teman sebaya
- Kesulitan dalam mengekspresikan emosi dan memahami perasaan orang lain
- Kurang dapat bereaksi secara tepat terhadap perasaan dan emosi orang lain
- Memperlakukan orang lain seperti obyek, hanya berinteraksi bila membutuhkan bantuan
- Tidak mampu membentuk hubungan pertemanana dan berinteraksi sosial sesuai dengan usianya
- Minat terbatas dan tidak dapat bermain secara akurat
- Keterbatasan dalam keterampilan sosial
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
- Keterlambatan atau kegagalan dalam perkembangan bahasa, tidak mampu memahami bahasa isyarat
- Kegagalan dalam merespon komunikasi orang lain, misalnya tidak bereaksi ketika dipanggil
- Penggunaan bahasa yang repetitif dan stereotipi
- Kebingungan dalam menggunakan kata ganti diri, misalnya saya menjadi kamu dan sebaliknya.

Pola-pola perilaku yang unik
- Gerakan tubuh berulang-ulang yang mengganggu proses pelaksanaan tugas, seperti mengepakkan tangan, menjentikkan jari, rocking, loncat-loncat
- Preokupasi pada bagian-bagian dari obyek atau keterikatan pada obyek tertentu
- Tidak menyukai perubahan
- Memaksakan untuk mengikuti rutinitas secara detil
- Minat yang sangat sempit.

Selain ketiga ciri utama tersebut, anak-anak autisme dapat memiliki beberapa ciri lain seperti:
a. Respon terhadap rangsang sensoris yang abnormal
b. Perkembangan yang terhambat dan tidak seimbang diantara berbagai aspek
c. Tingkah laku agresif atau menyakiti diri sendiri
d. Gangguan dalam pola tidur, kebiasaan makan dan kemampuan bina diri
e. Kesulitan dalam diskriminasi dan generalisasi.

Sampai saat ini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan autisma ini. Namun dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran maka dapat dideteksi bahwa terdapat kelainan neurobiologis pada susunan syaraf pusat yang berupa pertumbuhan sel otak yang tisak sempurna pada beberapa bagian otak. Gangguan ini terjadi selama kehamilan yang bisa disebabkan oleh infeksi virus CMV, Rubela, Herpes, Toxoplasma dan jamur (Candida). Selain itu faktor genetik juga memegang peranan penting dalam munculnya gejala-gejala autisma ini. Penelitian yang terakhir juga menemukan adanya hubungan antara gangguan pencernaan dengan autisma. Sebagian besar penyandang autisme ternyata tidak dapat mencernakan protein dari susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) secara sempurna. Akibatnya terjadi gangguan pada fungsi otak yang akan memperburuk fungsi kognitif , perilaku dan perhatian (Budhiman 2000).

Salah satu bentuk pelayanan untuk anak autistik adalah melalui pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak. Program pengajaran terstruktur dinyatakan sebagai cara untuk memperoleh kemajuan yang besar. Hal ini terjadi karena guru secara aktif mengambil inisiatif untuk berinteraksi dan memberi petunjuk, juga guru menjalankan tugasnya dari bagian terkecil sehingga anak mudah mengikuti tahap-tahap pembelajaran sesuai tujuan yang diharapkan. Anak-anak juga dapat memperkirakan apa yang akan dicapainya. Perubahan mendadak seringkali membuat anak panik dan tantrum. Tetapi sedapat mungkin juga mengajarkan hal-hal yang spontan dan fleksibel terutama dalam kemampuan sosialnya (Baron-Cohen 1993).

Acara pergi keluar melihat apa yang ada di sekitar merupakan salah satu bentuk yang perlu diperkenalkan kepada anak-anak autis agar secara luwes mampu menghadapi suasana yang berbeda dari keseharian. Mari kita bantu anak-anak ini untuk maju menggapai masa depannya. (Upik Kesumawati Hadi, orang tua Tohiro Desnanda)

Label: Pengetahuan

diposkan oleh Editor @ 21:18

Tidak ada komentar: