Artikel YKII yang dimuat dalam majalah Bening-BAZNAS (10 April 2009)yang berjudul :
Mereka Butuh Hidup Berdampingan
Memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia)
Fiandi adalah seorang anak ‘istimewa’ penyandang autis yang kini duduk di bangku kelas 3 SD inklusi. Alkisah, suatu hari pada Agustus 2008, ia ditampar orang usai ikut sholat Jumat di sebuah mesjid di Kotamadya Bogor. Salah satu jamaah didekatnya itu merasa terganggu dan langsung memukulnya usai sholat, hanya karena ia tidak fokus saat sholat.
Seberapa kuatkah seorang anak yang baru berusia 9 tahun menahan tamparan orang dewasa? Seberapa besar dampak psikologis sebuah tamparan dibanding rasa sakitnya? Patutkah seorang anak mendapat kekerasan di rumah ibadah pula? Sepatutnyalah Peristiwa yang menyayat hati semacam ini menjadi perhatian kita semua, mengingat masih banyak Fiandi-Fiandi lain yang kurang beruntung di dunia ini.
Taruhlah Tohiro, seorang anak yang juga penyandang autis, ia mempunyai kepedulian yang luar biasa terhadap teman-temannya. Sang anak suka sekali menggambar orang yang sedang bertempur, mengacungkan senapan dan tank lapis baja. Ungkapan akan perlawanannya terhadap kekerasan yang terjadi terhadap anak-anak khususnya penyandang autis sepertinya.
Bahkan kepedulian tersebut dia ungkapkan secara verbal bahwa perlu adanya Front Pembela Anak Autis (FPAA). FPAA adalah singkatan yang mirip dengan sebuah kelompok yang pernah hangat dalam pemberitaan TV dan koran. Suatu nalar yang spontan dari seorang anak penyandang autis.
Autisme sendiri adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Seorang anak penyandang autis karena dorongan otak yang tidak bisa dikendalikannya selalu ingin bergerak, populer dengan istilah hiperaktif atau hiperkinesis atau puluhan istilah ilmiah lainnya. Otaknya tanpa sebab yang jelas selalu mengirimkan perintah-perintah ke tubuhnya untuk bergerak, “ bergerak!` bergerak !, rasakan sensasi dari sebuah gerakan ! “. Jika tidak tubuhnya yang bergerak/lingkungannya diam maka lingkungangannya yang bergerak dan ia bisa duduk diam memperhatikannya.
Jumlah penyandang autisme di seluruh dunia telah mencapai 35 juta jiwa. Karena itu sudah waktunya untuk bahu membahu meningkatkan kepedulian terhadap masalah autism ini. Wakil delegasi PBB dari Qatar, Nassir Abdelaziz Al-Nassir yang dikenal di negaranya sebagai aktivis pembela hak azasi individu penyandang cacat telah berhasil mengangkat masalah autisme sebagai salah satu agenda tahunan PBB. Tanggal 2 April ditetapkan sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Agenda yang akan dibahas adalah penanggulangan autisme di bidang diagnosa, riset, intervensi perilaku pada usia dini dan pengobatan.
Sampai saat ini belum ditemukan penyebab yang pasti dari gangguan autisme ini. Berbagai terapi terbukti membantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain adalah terapi perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, pendidikan khusus, penanganan medikasi dan biomedis, diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba juga sudah tersedia di beberapa kota besar.
Dalam hal pendidikan, kecerdasan setiap individu sangat bervariasi. Karenanya, intensitas gejala autistik yang ada pada setiap individu juga tidak sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari ‘bisa mencapai pendidikan setinggi-tinggi mungkin’, sampai ‘tidak bisa dididik tetapi hanya dapat dilatih saja’.
Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, sehingga tidak bisa diistilahkan “dapat disembuhkan“. Hanya individu autistik ini dapat ditatalaksana agar bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas semaksimal mungkin, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.
Peristiwa penamparan ini hanyalah puncak sebuah gunung es. Kami para orangtua dan anak penyandang autis memikul seluruh berat gunung es itu. Anak-anak kami yang dijahili (bullying) di sekolah, mata yang melotot, dicibir ketika kami bawa anak kami ke dunia luar, dan perlakuan yang diskriminatif lainnya telah kami dapatkan. Di hari spesial memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia ini, Kami hanya ingin merasakan hak kami untuk hidup berdampingan, saling pengertian dan jauh dari kekerasan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar